6 Tokoh Sempat Remehkan Naruto Jadi Hokage

Table of Contents

Sejak episode pertama anime Naruto, Naruto sudah diperlihatkan bercita-cita menjadi seorang Hokage. Ketika Iruka dan Naruto menyantap mie ramen di kedai Ichiraku, Naruto mengatakan kepada Iruka bahwa suatu hari nanti, ia pasti akan mencapai impiannya menjadi Hokage.

Meskipun Iruka tidak meremehkan impian Naruto, ia cukup tercengang mendengar ucapan tersebut. Iruka tahu bahwa Naruto bukanlah murid Akademi yang pandai, dan sering membuat onar di Desa Konoha.

Ketika masih bocah, Naruto pernah mencoba menolong Hinata yang sedang diganggu oleh tiga bocah bandel. Di hadapan mereka, Naruto dengan tegas mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi Hokage. Namun, para bocah bandel itu justru menertawainya. Hal ini memicu baku hantam antara Naruto dan ketiga bocah tersebut. Setelah itu, Naruto kembali menegaskan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi Hokage sungguhan dan membuktikan bahwa mereka salah.

Setelah menjadi seorang Genin dan tergabung dalam Tim 7, Naruto juga menyampaikan kepada rekan-rekan timnya bahwa suatu hari nanti, ia—Uzumaki Naruto—akan meraih impiannya menjadi Hokage Desa Konoha.

Berikut adalah 6 Tokoh yang Sempat Meremehkan Naruto Jadi Hokage

1. Tazuna

Ketika Tim 7 yang dipimpin oleh Kakashi, dengan anggota Sakura, Naruto, dan Sasuke, mendapatkan misi untuk menjaga keselamatan Tazuna hingga ia selesai membangun jembatan di Negara Nami, Tazuna langsung meragukan kemampuan Naruto.

Ia menganggap Naruto, yang bertubuh pendek dan terlihat bodoh, tidak layak ikut mengawalnya. Hal ini membuat Naruto sangat marah dan hampir berniat menghabisi Tazuna, meskipun tugasnya adalah melindungi pria tersebut.

Bahkan saat Tim 7 bersiap meninggalkan Gerbang Aun Konoha untuk memulai perjalanan ke Negara Nami, Tazuna tetap meragukan kemampuan Naruto. Merasa diremehkan, Naruto menegaskan kepada Tazuna untuk tidak meremehkan seorang Shinobi. Ia dengan percaya diri menyatakan bahwa dirinya adalah Naruto Uzumaki, seorang Shinobi hebat yang suatu hari nanti akan menjadi Hokage Desa Konoha.

Namun, Tazuna tetap tidak percaya bahwa Shinobi "bodoh" seperti Naruto bisa menjadi Hokage.

2. Inuzuka Kiba

Sejak di Akademi, Kiba sudah mengenal Naruto sebagai murid yang dianggap payah. Salah satu alasannya adalah karena Naruto berulang kali gagal menggunakan Henge no Jutsu untuk meniru wujud Sandaime Hiruzen. Hasil jutsu sederhana selevel Henge no Jutsu saja sangat buruk, membuat Iruka frustrasi, sementara seluruh murid di kelas menertawakan Naruto.

Namun, dengan penuh keyakinan, Naruto menegaskan kepada seluruh murid yang menertawakannya bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi Hokage Desa Konoha. Pernyataan ini membuat Kiba semakin tidak percaya bahwa impian Naruto bisa terwujud.

Saat babak penyisihan Ujian Chūnin, Naruto akhirnya bertarung melawan Kiba. Naruto merasa sangat senang karena menganggap Kiba sebagai lawan yang mudah dikalahkan. Namun, sikap ini membuat Kiba tersinggung. Menurutnya, justru dirinya yang beruntung mendapatkan lawan seperti Naruto karena ia merasa sangat tidak mungkin kalah dari seorang Shinobi yang dianggap payah.

Saat pertarungan berlangsung, Kiba bersama Akamaru menggabungkan kekuatan untuk melancarkan serangan Taijutsu Gatsuga. Serangan tersebut berhasil membuat tubuh Naruto terpental dan terjatuh keras di lantai. Naruto mengalami luka parah hingga muntah darah. Meski dalam kondisi terkapar kesakitan, Naruto tetap tidak menyerah. Ia bahkan sempat mengoceh dengan penuh tekad bahwa ia akan menjadi Hokage dan tidak akan kalah dari Kiba.

Kiba, yang melihat kondisi Naruto, meremehkannya sebagai sosok lemah dengan impian tinggi untuk menjadi Hokage. Meski begitu, Kiba secara sarkastik berjanji bahwa jika Naruto tidak bisa menjadi Hokage, maka dirinya yang akan mengambil posisi tersebut untuk Naruto.

3. Hyuga Neji

Saat Naruto bertarung melawan Neji di babak akhir Ujian Chūnin Desa Konoha, ia mengandalkan Kage Bunshin yang membagi rata chakra ke setiap Bunshin. Strategi ini membuat Byakugan Neji kesulitan untuk menemukan Naruto yang asli.

Namun, meskipun Naruto melancarkan serangan keroyokan dengan Kage Bunshin, tidak ada satu pun yang berhasil mengenai Neji. Dengan kemampuan luar biasa, Neji menghabisi semua Kage Bunshin Naruto dengan sangat mudah. Naruto bahkan merasa takjub dengan kehebatan Neji, yang tampak seolah memiliki mata di belakang punggungnya.

Dalam pertarungan itu, Neji meremehkan impian Naruto untuk menjadi Hokage. Berdasarkan pengamatan mata Byakugan miliknya, Neji menilai kemampuan Naruto tidak mencerminkan seseorang yang pantas meraih gelar Hokage.

Menurut Neji, gelar Hokage tidak mungkin diraih hanya dengan bermodalkan kerja keras. Ia berpendapat bahwa menjadi Hokage adalah takdir yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang terlahir dengan keistimewaan tertentu. Neji kemudian menyampaikan keyakinannya pada Naruto, bahwa satu-satunya takdir yang sama dimiliki oleh semua orang hanyalah kematian.

4. Tsunade

Ketika Jiraiya memberitahu Tsunade bahwa para petinggi Konoha menawarkan posisi Hokage Kelima kepadanya, Tsunade menolak dengan menyebut hanya orang bodoh yang mau menjadi Hokage. Ia mencontohkan Yondaime Minato dan Sandaime Hiruzen, yang tewas mengorbankan nyawa demi melindungi Desa Konoha.

Naruto, yang mendengar ucapan itu, menjadi marah. Ia merasa Tsunade telah menghina Yondaime Minato dan Sandaime Hiruzen. Melihat sikap Naruto yang bersemangat setiap kali mendengar kata Hokage, Tsunade penasaran. Naruto kemudian dengan percaya diri menyatakan bahwa suatu hari nanti ia, Uzumaki Naruto, akan menjadi Hokage Desa Konoha.

Hal ini memicu pertarungan antara Naruto dan Tsunade. Dalam pertarungan itu, Naruto mencoba menyerang Tsunade menggunakan Rasengan, tetapi Tsunade hanya menghentakkan satu jarinya ke tanah. Hentakan itu menyebabkan tanah terbelah, membuat Naruto yang sedang membawa Rasengan terjatuh ke dalam celah tersebut. Tsunade kemudian menyadari bahwa Jutsu Rasengan milik Naruto masih jauh dari sempurna dan belum selevel dengan Rasengan milik Yondaime Minato.

Setelahnya, Tsunade memarahi Jiraiya karena telah mengajarkan Jutsu Rasengan kepada Naruto. Ia merasa yakin bahwa Naruto tidak mungkin bisa menguasai Rasengan. Menurut Tsunade, hanya Jiraiya dan Minato yang mampu menguasai Jutsu Rasengan.

Tsunade juga menyuruh Jiraiya untuk tidak terlalu memanjakan Naruto selama proses latihan. Ia menganggap bahwa Jiraiya memberi Naruto harapan palsu dengan membiarkannya mencoba menguasai Rasengan. Tsunade bahkan menyalahkan sikap buruk Jiraiya, yang menurutnya telah membuat Naruto bercanda dengan impian menjadi seorang Hokage.

5. Haruno Sakura

Saat Morino Ibiki bertugas menguji peserta Ujian Chūnin pada tes pertama, ia memulai dengan ujian tulis. Tes ini membuat para peserta bersusah payah menyontek untuk menjawab sembilan soal yang diberikan. Setelah sembilan soal selesai dijawab, Ibiki bersiap mengumumkan soal nomor 10, yang telah ia janjikan kepada peserta sejak awal.

Namun, sebelum soal ke-10 diumumkan, Ibiki menetapkan aturan yang membuat para peserta merasa putus asa. Ia hanya memberikan dua pilihan: "ikut" atau "tidak ikut."

Aturannya cukup berat. Setiap tim terdiri dari tiga orang, dan jika salah satu peserta memilih "tidak ikut," maka seluruh tim akan otomatis gagal. Sebaliknya, jika peserta memilih "ikut" tetapi salah menjawab soal nomor 10, maka seluruh tim akan tetap menjadi Genin selamanya dan tidak diperbolehkan mengikuti Ujian Chūnin lagi. Ibiki kemudian meminta siapa pun yang ingin mengundurkan diri untuk segera mengangkat tangan.

Aturan ini membuat banyak peserta merasa tidak percaya diri dan memilih mundur. Mereka lebih memilih mengikuti Ujian Chūnin tahun berikutnya daripada menanggung risiko menjadi Genin selamanya.

Sebenarnya, Sakura tidak berniat mengangkat tangannya karena ia yakin bisa menjawab soal nomor 10 dengan benar. Namun, ia meragukan kemampuan Naruto untuk menjawab soal tersebut. Saat Sakura memperhatikan Naruto yang tidak mau menyerah dan enggan mengangkat tangan, ia teringat kebiasaan Naruto yang selama ini dianggapnya bodoh, namun selalu dengan penuh keyakinan berkata bahwa ia ingin menjadi Hokage.

Tidak tega menghancurkan semangat Naruto, Sakura berniat mengangkat tangannya untuk mengundurkan diri, demi menyelamatkan tim mereka dari kemungkinan gagal. Namun, sebelum Sakura sempat mengangkat tangan, Naruto lebih dulu berdiri, menggebrak meja dengan keras, dan dengan penuh semangat berkata kepada Ibiki bahwa ia tidak akan lari dari soal nomor 10.

Tindakan itu membuat Sakura mengurungkan niatnya untuk menyerah. Pada akhirnya, ternyata keputusan untuk menjawab "ikut" pada soal nomor 10 menjadi kunci kelulusan tes pertama Ujian Chūnin. Semua peserta yang memilih "ikut" otomatis dianggap lulus tanpa perlu menjawab sembilan soal lainnya.

6. Kabuto

Saat tes pertama Ujian Chūnin dimulai, Morino Ibiki menetapkan aturan yang menakuti para peserta. Jika ada satu anggota tim yang salah menjawab soal nomor 10, maka seluruh timnya akan dihukum menjadi Genin selamanya dan tidak diperbolehkan mengikuti Ujian Chūnin lagi. Namun, Ibiki memberikan pilihan bagi mereka yang ragu untuk mundur, dengan jaminan masih bisa mengikuti ujian tahun berikutnya.

Di tengah situasi penuh tekanan itu, Kabuto, yang juga mengikuti Ujian Chūnin, memperhatikan aksi Naruto. Naruto menarik perhatian seluruh peserta dengan menggebrak meja dan berteriak kepada Ibiki bahwa ia tidak akan lari atau menyerah. Naruto dengan lantang menyatakan bahwa meskipun harus menjadi Genin seumur hidup, impiannya untuk menjadi Hokage tidak akan pernah berubah.

Saat pertemuan tiga Sannin, terjadi pertarungan sengit yang melibatkan Tsunade, Orochimaru, Jiraiya, dan Kabuto. Kabuto memanfaatkan fobia Tsunade terhadap darah, membuatnya lumpuh ketakutan. Dalam kondisi itu, Naruto melindungi Tsunade dan memutuskan untuk bertarung melawan Kabuto.

Naruto menggunakan Rasengan yang belum sempurna untuk menyerang Kabuto. Namun, sebelum serangannya mengenai Kabuto, Kabuto lebih dulu melancarkan serangan chakra ke paha kanan Naruto, memutuskan otot vastus lateralis di kakinya. Akibatnya, Naruto kesulitan berdiri dan berada dalam posisi lemah.

Kabuto lalu mengejek Naruto dengan mengingatkan kata-kata Naruto saat tes pertama Ujian Chūnin. Ia bertanya apakah Naruto sekarang merasa takut dan ingin lari. Kabuto dengan sinis menasihati Naruto untuk berhenti berteriak seperti anak kecil. Ia mengatakan bahwa Naruto harus bersikap bijak dan menerima kenyataan bahwa dalam situasi tertentu, menyerah dan melarikan diri adalah pilihan yang lebih masuk akal.

Kabuto juga mengejek impian Naruto untuk menjadi Hokage, menyebutnya sebagai impian bodoh dari seorang bocah yang menganggap segalanya mudah. Menurut Kabuto, ucapan Naruto tentang impiannya tidak memiliki arti apa pun dan hanya sekadar kata-kata kosong.

Post a Comment