Qiuqa telah menuliskan 10 poin setelah menonton Blue Lock episode 21.

1. Ego Jinpachi Jelaskan Fenomena Ajaib

Di ruang kontrol, Anri kagum melihat aksi Nagi yang berpura-pura menendang bola saat masih di udara untuk menambah putarannya, sehingga bola tetap melayang. Saat bola mulai turun, Nagi kemudian menendangnya dan mencetak gol.

Anri menilai tendangan Nagi sangat ajaib, tetapi Ego menanggapinya dengan sinis, menyebut Anri hanya memberikan penilaian murahan sebagai orang awam.

Ego menjelaskan kepada Anri bahwa mentalitas mencetak gol, keahlian yang diarahkan untuk mencapai target tersebut, serta situasi di lapangan dan lingkungan yang mendukung kemajuan pemain adalah kunci utama.

Jika semua kondisi itu optimal, performa pemain akan melampaui nalar manusia. “Itulah yang kamu sebut keajaiban,” kata Ego. “Dan ada formula keajaiban yang menanti peserta di akhir seleksi,” tambahnya.

2. Visi Isagi & Rin Seimbang

Tim White merayakan gol Nagi dengan penuh semangat. Isagi merasa senang karena untuk pertama kalinya ia berhasil mengalahkan prediksi Rin, terutama dengan bantuan Nagi. Isagi yakin, dengan mengandalkan Nagi, ia bisa mengalahkan Rin dalam duel satu lawan satu.

Penggabungan kemampuan spatial awareness Isagi dan kontrol bola Nagi terbukti efektif, dan gol Nagi menjadi bukti bahwa mereka mampu menaklukkan Rin, meskipun hasil itu didapat dari kombinasi berbagai teknik.

Isagi menganalisis bahwa untuk benar-benar mengalahkan Rin, ia dan Nagi harus menyatukan kemampuan individu mereka agar dapat melampaui skill Rin di semua aspek.

Skor imbang antara Tim White dan Tim Red menunjukkan bahwa mata dan otak Isagi telah berevolusi hingga mencapai level yang setara dengan Rin.

Isagi yakin bahwa selama visinya berada di tingkat yang sama dengan Rin, ia dapat membawa timnya meraih kemenangan dengan mengoptimalkan senjata rekan-rekannya.

Namun, meskipun visinya kini setara dengan Rin, Isagi merasa tidak puas. Jika ia hanya bisa mengalahkan Rin dengan bantuan rekan satu tim, maka ia sadar bahwa impian menjadi striker terbaik di dunia takkan terwujud.

Isagi tidak ingin hanya seimbang dengan Rin—ia ingin bisa memprediksi permainan dan melihat masa depan di lapangan lebih cepat dari Rin.

3. Itoshi Rin Mengendalikan Lapangan

Rin memberi tahu rekan-rekannya bahwa dia akan mengendalikan lapangan, dan jika mereka ingin menang, mereka harus mengikuti arahan Rin semampu mereka.

Bachira mengoper bola kepada Rin, dan Rin kemudian mengirimkan operan backspin yang mengarah ke Tokimitsu, yang sedang berhadapan langsung dengan Barou. Melihat bola lebih dekat ke arahnya, Barou yakin dia bisa merebut bola dari Tokimitsu.

Namun, bola operan Rin memantul di tanah dan bergerak menuju Tokimitsu. Tokimitsu berhasil menguasai bola dan melakukan benturan bahu untuk menahan Barou.

Saat Tokimitsu menahan bola dan menghalangi Barou, Rin berlari di sampingnya, dan Tokimitsu mengoper bola kembali kepada Rin. Rin segera mengirim umpan lambung ke arah Aryu, yang bergerak di sisi kanan gawang Tim White dengan Chigiri membuntutinya.

Aryu melompat ke udara dan mengontrol bola dengan dadanya. Ketika bola dan Aryu mendarat, Chigiri sudah menyusul dan menghadangnya. Aryu kemudian mengirim umpan silang ke arah Rin, yang berlari bebas di luar kotak penalti Tim White.

Nagi bergerak untuk memblokir jalur tendangan Rin, sesuai instruksi Isagi, sementara Isagi mengawal Bachira di sisinya.

Isagi merenungkan, dalam situasi duel 2 lawan 2, apakah Rin akan menggiring bola, mengoper ke Bachira, atau langsung menendang.

Nagi menduga Rin akan melakukan trik fake shoot lagi, sehingga ia tidak maju dan bersiap dengan kakinya untuk menghentikan trik tersebut. Namun, Rin justru melakukan roulette turn, memutar tubuhnya dan melewati Nagi, lolos dari hadangannya.

Isagi sudah bersiap menghadang Rin, yakin bahwa dia telah membaca gerakan Rin lebih cepat. Namun, Rin dengan tenang menyatakan bahwa Isagi tertinggal dua langkah. Ketika Isagi mencoba melakukan tekel, Rin melompat dan mengirim bola ke sisi kiri, di mana Bachira berlari bebas.

Bachira mengerti Rin tidak sedang memprediksi, melainkan mengendalikan semua orang. Bachira pun menendang bola dan membobol gawang Tim White. Skor menjadi 3-2, Tim Red unggul atas Tim White.

4. Sepak Bola Dalang Itoshi Rin

Isagi akhirnya menyadari bahwa Rin telah memanfaatkan senjata fisik Tokimitsu, lompatan Aryu, pengamatan Isagi, dan mengontrol pergerakan semua pemain di lapangan seperti boneka. Rin benar-benar menjadi dalang yang mengendalikan jalannya permainan.

Rin menegaskan bahwa mustahil bagi seorang “figuran” seperti Isagi untuk bisa memprediksi permainannya.

Isagi teringat bahwa dalam pertandingan pertama mereka, Rin juga menggunakan taktik yang sama, yaitu memanipulasi pikiran lawan dan mengontrol lawan. Namun, dalam pertandingan kali ini, Rin telah mengendalikan semua orang di lapangan, baik rekan setim maupun lawan, tanpa pandang bulu.

Isagi mulai memahami cara kerja “sepakbola dalang” Rin. Rin mengukur kemampuan semua pemain di lapangan dan memandu rekan-rekannya tanpa mereka sadari untuk memaksimalkan potensi mereka.

Rin menciptakan permainan tingkat tinggi yang sepenuhnya sesuai dengan rencana dan jalan pikirannya, sambil mengatasi setiap kelemahan dan kelebihan lawan agar strateginya berjalan sempurna. Metode ini dijalankan dengan memanfaatkan keterampilan teknis, visi taktis, dan kemampuan fisik yang dimiliki Rin.

Isagi merasa takjub, ternyata Rin memang sehebat itu. Namun, dia mulai bertanya-tanya, apakah kekuatannya cukup untuk “melahap” seorang jenius seperti Rin?

5. Itoshi Rin Baca Prediksi Isagi Yoichi

Nagi mengatakan kepada Isagi bahwa permainan sederhana akan mudah terbaca oleh Rin. Jadi, mereka harus melampaui apa yang sudah dibayangkan Rin dalam pikirannya. Chigiri setuju dengan Nagi, dan menambahkan bahwa mereka perlu melakukan gerakan yang sulit diprediksi oleh Rin.

Meskipun Chigiri tahu itu sulit, dia tetap yakin bahwa jika mereka menggabungkan senjata mereka secara maksimal, Nagi menambahkan bahwa peluang untuk menerobos akan datang.

Saat Isagi, Chigiri, dan Nagi bersiap untuk memulai pertandingan, Barou merasa bahwa dialah solusi bagi mereka bertiga. Dengan diam, Barou menatap mereka dengan intens, napasnya terdengar seperti singa yang siap menerkam.

Nagi mengoper bola ke Isagi. Sambil menggiring bola, Isagi merasa heran karena formasi Tim Red berubah. Rin kini memimpin serangan, sementara Bachira menjadi jangkar di belakangnya.

Isagi kemudian mengoper bola ke Chigiri di sisi kiri. Chigiri berhasil melewati Aryu yang mencoba menghadangnya.

Saat melihat Rin datang untuk menghadang, Chigiri merasa bahwa pertahanan lawan kekurangan satu pemain. Ia lalu mengirim umpan silang ke Nagi yang berada di luar kotak penalti Tim Red.

Isagi mengamati situasi dua lawan dua. Tokimitsu tampak siap untuk merebut operan dari Chigiri, sementara Bachira, yang berada di depan Isagi, bersiap mengantisipasi gerakan Nagi.

Melihat celah, Isagi memanfaatkan titik buta Bachira dan bergerak ke belakangnya. Saat Bachira bereaksi dan menghadap ke arahnya, Isagi dengan cepat berlari mengelilingi Bachira, lalu kembali berada di belakangnya.

Isagi berhasil menerobos pertahanan lawan dan melewati Bachira. Nagi, yang melihat peluang, mengirimkan umpan lambung sempurna kepada Isagi, yang sudah berada di depan gawang, siap melakukan direct shoot.

Namun, Isagi terkejut melihat Rin sudah membaca pergerakannya. Dengan jalur tendangannya tertutup oleh Rin, Isagi panik dan berusaha mengamankan bola agar tidak direbut.

Keduanya bertabrakan dalam perebutan bola, dan Isagi merasa cemas karena menyadari kekuatan fisiknya tidak sebanding dengan Rin.

Saat itu, Isagi juga tersadar bahwa Rin sedang berada dalam mode serius, dan chemistry sempurna permainan Tim White hanyalah sekadar pertunjukan boneka di mata Rin.

6. Cara Patahkan Prediksi Itoshi Rin

Seperti singa yang bersembunyi dalam keheningan lalu muncul mendadak menyergap mangsanya, Barou merebut bola dari kaki Isagi yang sedang diperebutkan antara Isagi dan Rin.

Rin terkejut melihat Barou berhasil mematahkan prediksinya dan berkata, “Sepakbola macam apa ini?” Isagi pun menyadari bahwa merebut bola dari rekan setim tak ada dalam perhitungan Rin, sehingga Rin tidak bisa mengantisipasi gerakan permainan liar Barou.

Barou kemudian menendang bola dari dalam kotak penalti dan membobol gawang Tim Red. Skor 3-3, Tim White berhasil menyamakan kedudukan. Barou berselebrasi dan menantang Rin dengan berkata, “Cobalah mengontrolku kalau bisa.”

Isagi menganalisis bahwa Barou sangat terobsesi untuk “melahap” permainannya, membuat Barou menjadi sosok yang tak bisa diprediksi oleh Rin.

Dalam gaya permainan Rin yang penuh perhitungan, Barou, dengan gaya bermainnya yang seperti “antagonis” di lapangan, adalah variabel yang tidak bisa dikontrol.

Sambil berpikir, kepingan puzzle yang sebelumnya terlepas dari kepalanya mulai kembali terpasang, membentuk kepala Isagi dengan kepingan puzzle baru. Ini menandakan bahwa Isagi telah mendapatkan perspektif baru.

Isagi pun menyimpulkan bahwa dia harus bermain dengan cara yang tak bisa diprediksi oleh Rin agar Rin tak bisa mengendalikannya. Keberadaan Barou seperti “bug” di lapangan, dan Isagi menyadari bahwa Barou adalah kunci untuk mengalahkan Rin.

Bachira menyapa Rin, “Situasi di lapangan mulai sulit ya, Rin?” Namun, Rin dengan tegas menyatakan bahwa dia sudah memperbaiki semuanya dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

Sementara itu, Isagi bertekad untuk memanfaatkan permainan liar Barou demi menciptakan permainan tim yang tak bisa diprediksi oleh Rin.

7. Permainan Ugal-Ugalan Barou Shouei

Bachira mengoper bola ke Rin. Isagi segera menginstruksikan Chigiri untuk bertukar posisi dengan Nagi. Chigiri bertugas melakukan pressing untuk menghentikan serangan Bachira dan Rin, sementara Nagi menjaga Aryu.

Chigiri langsung menantang Rin, yang sedang menggiring bola, untuk mencoba melewatinya. Namun, Rin mengoper ke Bachira di sisi kiri lapangan. Bachira melihat Isagi menghadangnya dengan jarak yang agak jauh, tetapi Chigiri tiba-tiba muncul dengan cepat, hampir merebut bola.

Bachira menyadari bahwa Isagi mengandalkan kecepatan Chigiri untuk melakukan pressing, menciptakan situasi dua lawan satu di mana Isagi dan Chigiri mengapitnya. Saat Bachira hendak mengoper ke Rin yang berada di luar kotak penalti, Isagi menjaga Rin dengan ketat.

Bachira memahami bahwa rencana Isagi adalah membuatnya ragu dalam mengambil keputusan, sehingga Isagi bisa mengimbangi pergerakan tanpa bola dari Rin. Namun, Bachira bertekad untuk membuka jalannya sendiri agar tetap bisa mengoper ke Rin.

Dalam duel pertamanya dengan Chigiri, Bachira mengandalkan teknik dribel air elastico dan berhasil melewati Chigiri. Namun, secara mengejutkan, Isagi, yang sebelumnya menjaga Rin, tiba-tiba muncul untuk menghadang Bachira.

Setelah Bachira dengan mudah melewati hadangan Isagi, Barou muncul tiba-tiba dan merebut bola darinya. Bachira pun sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam prediksi Isagi, karena Isagi sengaja menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan agar Barou bisa merebut bola.

Barou menggiring bola dengan kecepatan penuh, diikuti oleh Tokimitsu. Namun, dengan gerakan tipuan chop yang memukau, Barou berhasil melewati Tokimitsu dan bersiap menendang bola di depan gawang Tim Red.

Tepat sebelum Barou melepaskan tendangan, Rin bergerak cepat dan menendang bola keluar lapangan.

Isagi menyadari bahwa meskipun Rin tidak mampu memprediksi gerakan liar Barou, Rin memiliki solusi dengan selalu memposisikan dirinya secara tepat untuk bisa bereaksi terhadap permainan Barou yang tak terduga.

Isagi juga memahami bahwa baik dirinya maupun Rin, satu kesalahan dalam memprediksi pergerakan bisa membuka peluang bagi lawan untuk mencetak gol. Karena itu, keduanya terus berusaha saling memprediksi gerakan satu sama lain demi mencegah kebobolan.

Isagi berniat memaksimalkan gaya bermain liar Barou yang penuh kejutan, sementara Rin berfokus pada upaya meminimalkan dampaknya. Pada akhirnya, Isagi menyimpulkan bahwa siapa pun yang berhasil mengendalikan permainan Barou yang tak terduga, dialah yang akan memenangkan pertandingan ini.

8. Bachira Meguru Tak Ada Disitu

Bachira merasa terpukau menyaksikan pertarungan antara Isagi dan Rin yang berlangsung tepat di hadapannya. Keduanya menampilkan kemampuan luar biasa dalam memprediksi pergerakan satu sama lain, saling bersaing di level tertinggi.

Di mata Bachira, mereka adalah dua “monster” yang saling menghancurkan di lapangan. Tubuhnya gemetar karena keinginannya untuk bermain sepak bola bersama para monster yang selama ini diidamkannya mulai terwujud.

Ketika Chigiri melempar bola ke Isagi, Rin berlari mengiringi setiap langkah Isagi yang menggiring bola. Bachira bersemangat ingin bergabung dengan dua monsternya, namun Isagi dan Rin berlari melewatinya tanpa memedulikan kehadirannya.

Bachira menerobos di antara mereka, namun seolah hanya menjadi bayangan yang tak berbekas.

Bachira keheranan dan mulai bertanya-tanya dalam hati. Meskipun kini ia tak lagi sendirian dan impiannya untuk bermain sepak bola bersama monster idamannya seperti Isagi dan Rin telah terwujud, ia merasa kehadirannya di antara mereka seakan tak berarti.

Isagi dan Rin tampak asyik bermain tanpa memedulikannya.

Ketakutan mulai merayapi Bachira, rasa takut akan ditinggalkan. Bagi Bachira, Isagi dan Rin adalah monster, namun muncul pertanyaan di benaknya: apa artinya dirinya bagi mereka? Saat itulah, Bachira tersadar bahwa dirinya sedang diuji.

9. Perspektif baru Isagi

Rin yang berlari mengiringi Isagi berhasil merebut bola darinya, tetapi Chigiri langsung melakukan tekel yang membuat bola keluar lapangan.

Isagi meminta maaf kepada Chigiri karena tidak sempat mengoper bola, namun Chigiri merasa bahwa dirinya yang seharusnya meminta maaf; jika ia lebih cepat, mereka bisa merebut bola.

Melihat Chigiri terengah-engah, Isagi sempat khawatir bahwa lutut Chigiri bermasalah lagi, tetapi Chigiri mengaku bahwa ia hampir kehabisan stamina.

Isagi menyadari bahwa ia bisa seimbang melawan Rin berkat bantuan Chigiri, yang memiliki kecepatan untuk melakukan pressing. Namun, stamina Chigiri terbatas untuk terus berlari cepat.

Saat merenung, Isagi merasa seolah kepingan puzzle yang membentuk kepalanya terkikis dan beterbangan. Ia tersadar bahwa stamina semua pemain di lapangan terkuras dengan cepat karena intensitas permainan yang sangat tinggi.

Jika kondisi menurun saat ini, hal itu akan berdampak pada kualitas operan dan gerakan.

Ketika kepingan puzzle mulai kembali terpasang di kepalanya, Isagi mendapatkan perspektif baru: ia menyimpulkan bahwa orang yang dapat menguasai perubahan kecil dalam stamina dan performa ini akan mampu menguasai akhir pertandingan.

10. Stamina Super Tokimitsu

Rin mengoper bola ke Tokimitsu, yang segera dikawal ketat oleh Barou. Karena tekanan dari Barou, Tokimitsu mengembalikan bola ke Rin. Tanpa ragu, Rin mengoper lagi ke Tokimitsu yang sedang berlari, meski Barou terus membayangi.

Tokimitsu kemudian mengoper kembali ke Rin, saat Barou masih menjaga Rin. Rin mengirim operan ke Tokimitsu yang berlari dihadang oleh Chigiri, sementara Barou mengejar dari belakang. Tokimitsu lalu mengembalikan bola ke Rin.

Ketika Barou, Nagi, dan Chigiri semua terfokus pada Rin, Rin dengan cerdik mengirimkan umpan lambung kepada Tokimitsu yang berhasil menerobos dan berada tepat di depan gawang Tim White.

Isagi terkejut melihat aksi one-two cepat antara Rin dan Tokimitsu, yang berlangsung begitu cepat sebelum Chigiri sempat melakukan pressing dan sebelum Isagi bisa membuat keputusan.

Saat Isagi mengamati permainan lebih dalam, dia menyadari bahwa teknik operan Rin sebenarnya biasa saja. Namun, yang membuatnya terkejut adalah kemampuan Tokimitsu untuk merespons setiap operan Rin tanpa melambat.

Isagi pun tersadar ternyata stamina Tokimitsu benar-benar tak terbatas.

Namun, saat Tokimitsu bersiap menerima umpan lambung, Chigiri melakukan tekel dari samping, sementara Barou menarik Tokimitsu dari belakang, membuatnya terjatuh. Anri langsung memberikan kartu kuning kepada Barou dan Chigiri.

11. Freekick Rin

Tim Red mendapatkan tendangan bebas, dan Rin dipilih sebagai eksekutor.

Nagi memperingatkan Isagi bahwa tendangan bebas tersebut berada di zona tembak Rin. Isagi dan Chigiri berdiri sebagai pagar betis untuk menghalangi tendangan.

Isagi menganalisis bahwa Rin memiliki dua pilihan: menendang langsung atau mengoper. Jika Rin memilih menendang, Isagi dan Chigiri sudah siap untuk menghadang bola. Namun, jika Rin mengoper ke sisi kanan, di mana Bachira atau Aryu berada, Isagi berencana membantu Nagi bertahan di sisi itu.

Isagi ingin merespons berdasarkan gerakan kaki Rin—apakah Rin akan menendang langsung atau mengoper. Jika Isagi melompat untuk menghalangi, ia tidak akan bisa membantu Nagi jika Rin memilih mengoper.

Rin akhirnya menendang bola dengan putaran vertikal yang menukik tepat di atas kepala Isagi, dan menghasilkan gol untuk Tim Red. Skor menjadi 4-3, Tim Red unggul atas Tim White.

Rin kemudian mengejek Isagi, “Kau pasti ragu, apakah aku akan mengoper atau menendang, kan?” Rin menambahkan bahwa pengamatan Isagi payah, dan menegaskan bahwa dia hanya punya satu pilihan, yaitu mencetak gol.

Bachira, yang menyaksikan hal tersebut, mulai sadar. Dia menilai bahwa baik Rin maupun Isagi merasakan kebahagiaan dalam bermain sepak bola dengan mencetak gol yang memenuhi ambisi ego mereka masing-masing.

Bachira kemudian bertanya pada dirinya sendiri, “Apa tujuan sebenarnya aku bermain sepak bola? Apakah untuk menemukan monster sejati, atau untuk memiliki teman?”

Akhirnya, Bachira menyadari bahwa terus bermain hanya untuk mencari monster atau teman yang bisa bermain sepak bola sesuai keinginannya tidak akan membuatnya sejajar dengan Rin dan Isagi.