Qiuqa telah menuliskan 11 poin setelah menonton Blue Lock episode 23.

1. Tim Red Menang

Terkepung oleh tiga pemain lawan—Nagi di depan, Chigiri di kiri, dan Barou di belakang—Bachira berusaha meloloskan diri dari tekanan mereka.

Isagi, yang mengamati dari belakang, melihat Rin bergerak ke sisi kiri Bachira, berada di posisi terbaik untuk langsung menuju gawang jika menerima operan dari Bachira. Namun, Isagi tahu ada sesuatu yang tidak bisa diprediksi Rin dari Bachira.

Dalam hatinya, Isagi tahu sosok “monster” dalam diri Bachira dan berniat “melahap” monster itu untuk mengalahkan Rin. Ia menyadari bahwa Bachira, yang sebelumnya cenderung mengoper bola ke rekan setim yang berada di posisi terbaik, kini telah berubah.

Sebagai pemain yang sering menerima operan dari Bachira, Isagi tahu bahwa Bachira bukanlah pemain yang egois. Oleh karena itu, Isagi merasa yakin bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Bachira selanjutnya.

Setelah melakukan serangkaian juggling ala freestyle football, Bachira menggunakan skill Rainbow Flick untuk meloloskan diri dari kepungan tak terelakkan oleh tiga pemain Tim White, yakni Barou, Chigiri, dan Nagi.

Lalu, dengan penuh percaya diri, Bachira melepaskan tendangan spektakuler ke arah gawang Tim White. Meski seharusnya tendangan itu hampir pasti berbuah gol, namun Isagi, dengan prediksi hebatnya, berhasil menggagalkan tendangan tersebut, membuat bola terlempar tinggi ke udara.

Menurut Ego Jinpachi, ketika Isagi berhasil memblokir tendangan Bachira, kemampuan prediksinya telah melampaui Rin. Jika posisi Isagi hanya bergeser satu sentimeter ke kiri atau kanan saat memblokir, Tim White bisa saja melakukan serangan balik dan memenangkan pertandingan.

Namun, bola yang terlempar ke udara jatuh tepat di depan Rin, yang berada di dalam kotak penalti Tim White. Dengan cepat, Rin mengeksekusi bola tersebut dan mencetak gol kelima. Skor 5-4 membawa kemenangan gemilang bagi Tim Red, sekaligus mengalahkan Tim White.

2. Rin Pilih Isagi

Bachira memandangi Isagi yang meluapkan kekecewaannya dengan berteriak sambil bersujud di lapangan.

Aryu dan Tokimitsu, yang tahu bahwa Rin tidak terlalu peduli pada siapa pun sebagai rekan tim, merasa bertanggung jawab untuk menentukan siapa yang akan mereka pilih dari Tim White.

Bachira merasa bahwa kini ia sudah bisa bermain tanpa Isagi, dan ingin memberi tahu tentang pilihannya. Namun, Rin tiba-tiba mengambil alih keputusan untuk memilih rival, melarang rekannya untuk memilih.

Rin mengungkapkan bahwa ia tidak bisa memprediksi momen ketika Bachira mencoba mencetak gol dengan dribel egois, lalu Isagi tiba-tiba berhasil memblokir bola tersebut. Ini adalah pertama kalinya Rin merasakan kekalahan dalam hal memprediksi permainan sejak tiba di Blue Lock.

Rin memilih Isagi untuk bergabung dalam timnya, karena ia ingin menjadikan Isagi bagian dari daftar pemain yang akan dihancurkannya, sekaligus saksi terdekat saat Rin menjadi pemain sepak bola terbaik di dunia.

Isagi, yang sedang berlutut di lapangan, masih kebingungan mengapa Rin memilihnya. Ia merasa payah setelah dua kali dikalahkan Rin dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apa yang kurang dari dirinya? Isagi merasa bahwa tidak ada yang seharusnya tahu ke mana bola akan jatuh setelah ia memblok tendangan Bachira. Ia pun bertanya-tanya, apakah perbedaan antara dirinya dan Rin hanya soal keberuntungan?

3. Permintaan Maaf Isagi

Saat Isagi termenung, Bachira mengajaknya untuk segera menyusul Tim Red menuju gerbang pemenang karena mereka berhasil lolos seleksi kedua Blue Lock. Sambil berjalan pergi, Isagi meminta maaf kepada Tim White yang masih meratapi kekalahan mereka.

Isagi mengungkapkan bahwa Tim White hampir saja mengalahkan Tim Red, dan gol terakhir yang menyebabkan kekalahan mereka hanya karena keberuntungan Rin. Menurutnya, Tim White tidak benar-benar dikalahkan.

Chigiri menyuruh Isagi untuk tidak menghibur mereka dan memintanya segera pergi. Barou mengancam, menyuruh Isagi pergi atau akan menghabisinya. Sementara Nagi berjanji akan menghancurkan Isagi jika bertanding lagi dan memastikan bahwa tim mereka akan lolos seleksi kedua tanpa Isagi.

Dalam hati, Isagi menyadari bahwa tanpa Chigiri, Barou, dan Nagi, ia tak mungkin bisa melangkah sejauh ini. Ia merasa terhormat telah bertanding bersama mereka dan berharap mereka juga bisa lolos. Setelah Isagi pergi, Chigiri, Barou, dan Nagi meluapkan rasa sakit akibat kekalahan tersebut.

4. Keberuntungan

Isagi dan tim barunya berjalan di lorong. Tokimitsu mengungkapkan bahwa Isagi hebat karena langsung dipilih oleh Rin, dan ia sendiri sebenarnya juga ingin memilih Isagi.

Aryu mengaku bahwa ia lebih ingin memilih Chigiri yang glamor, tapi menurutnya, tendangan tumit Isagi juga cukup glamor. Aryu dan Tokimitsu pun menyambut baik kehadiran Isagi dalam tim mereka.

Di sisi lain, Bachira bercanda mengingatkan bahwa Isagi sempat berjanji akan “merebutnya kembali”, tetapi pada akhirnya justru Bachira sendiri yang berhasil merebut Isagi. Mendengar itu, Isagi langsung meminta maaf karena merasa dirinya masih payah.

Namun, Bachira menjelaskan bahwa berjarak dari Isagi justru memberinya kesempatan untuk berjuang dengan kekuatannya sendiri. Ia mengakui bahwa dirinya dulu sempat takut bermain sepak bola seorang diri dan selalu berharap Isagi bisa menyelamatkannya.

Meski begitu, Bachira kini sadar bahwa hanya dirinyalah yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri, dan sekarang ia benar-benar menikmati permainan tanpa perlu bergantung pada Isagi. Kendati demikian, Bachira tetap memberikan peringatan: jika Isagi gagal menyamai level permainannya, ia sama sekali tidak akan ragu untuk meninggalkan Isagi.

Setelah itu, Isagi menanyai Rin dan ingin mengetahui alasan di balik kekalahan Isagi melawan Rin. Dengan sikap santai, Rin memberitahu Isagi bahwa bahkan seekor monyet pun sudah pasti mengetahui, jika kemenangan Rin atas Isagi dipengaruhi oleh faktor keberuntungan.

Namun, Isagi tidak merasa puas hanya dengan jawaban tentang keberuntungan semata, karena ia ingin memiliki alasan yang pasti untuk dapat menjadi lebih kuat.

Kemudian, Rin menegaskan kepada Isagi bahwa keberuntungan bukan sekadar kebetulan. Menurutnya, keberuntungan adalah elemen misterius yang berpihak pada mereka yang berjuang demi harapan mereka, dan hal itu pasti terjadi di lapangan sepak bola.

Rin menambahkan, jika Isagi tidak bisa memahami esensi keberuntungan, maka ia tidak pantas hidup di dunia persaingan ini, di mana kemenangan dan kekalahan tidak bisa dihindari.

5. Apa Itu Keberuntungan?

Dari layar videotron, Ego menyapa Tim Rin dan mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka sebagai tim pertama yang lolos dari seleksi kedua Blue Lock.

Ego kemudian membahas cara kerja keberuntungan dalam sepak bola. Ia melontarkan pertanyaan, “Pernahkah kalian merasa sangat tidak beruntung karena terkena kotoran burung merpati?

Setelah mengalaminya, kalian mungkin baru sadar bahwa ada banyak kotoran burung di sepanjang jalan, dan ketika mendongak, ada banyak burung bertengger di tiang listrik. Jika sejak awal kalian berhasil menghindari kotoran itu, apakah kalian akan tetap menyebut diri kalian tidak beruntung?”

Ego melanjutkan analoginya, “Saat membeli tiket undian, jika pemilik toko tidak memberikan nomor yang dianggap ‘beruntung’, apakah itu berarti kalian memang kurang beruntung?”

Dari situ, Ego menyimpulkan bahwa keberuntungan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan akan mendatangi tempat yang memang sudah dipersiapkan, termasuk di atas lapangan hijau. Ia menekankan bahwa selama 90 menit pertandingan berjalan, unsur kebetulan dan kepastian akan terus saling beririsan.

Ego juga mengingatkan para pemain untuk selalu memikirkan cara mengubah peluang dari nol menjadi satu, serta bagaimana merumuskan formula terbaik untuk senjata andalan masing-masing. Segala hal yang telah mereka pelajari di Blue Lock pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kepastian setiap peserta dalam mencetak gol.

Namun, ketika kepastian itu berbenturan dengan kepastian lawan, suka atau tidak, kebetulan akan tercipta—dan dari situlah keberuntungan yang sesungguhnya berasal.

6. Cara Kerja Keberuntungan

Ego menjelaskan bahwa saat Bachira melakukan aksi egois dengan mendribel bola sendirian untuk mencetak gol, pemain Tim White—Nagi, Chigiri, dan Barou—berhenti sejenak. Bahkan, pemain Tim Red, Aryu dan Tokimitsu, juga menghentikan langkah mereka.

Kelima pemain tersebut hanya bisa terpaku menyaksikan Isagi mengejar Bachira, sembari bertanya-tanya dalam hati: apakah Bachira akan berhasil mencetak gol, ataukah Isagi yang mampu memblok tendangannya?

Di sisi lain, Rin sama sekali tidak berhenti berlari, dan justru menambah kecepatannya menuju Bachira. Sadar bahwa ia tidak akan menerima operan, Rin membuat pertaruhan: ia yakin Isagi akan berhasil memblok tendangan Bachira, dan bola rebound itu akan memantul tepat di kakinya.

Rin seolah mengambil risiko besar demi menanti datangnya sebuah momen ajaib.

Tiba-tiba, Isagi menginterupsi Ego. Ia menegaskan bahwa arah bola yang melambung ke udara setelah tendangan Bachira diblokir, lalu jatuh tepat di depan Rin, hanyalah kebetulan murni. Ego membenarkan bahwa bola tersebut memang bisa jatuh ke mana saja, tetapi ia juga menduga bahwa Isagi sempat berharap bola itu akan jatuh kepadanya.

Ego lantas menjelaskan, seandainya Rin berhenti di luar kotak penalti, jatuhnya bola di hadapan Rin tidak akan menjadi posisi yang ideal. Sebab, Chigiri, Barou, dan Nagi pasti akan langsung menyerbu untuk mencegahnya mencetak gol.

Namun, Rin memilih untuk berlari ke posisi depan gawang, tempat paling memungkinkan untuk mencetak gol, dengan mengandalkan keberuntungan bahwa bola rebound akan jatuh di depannya.

Mendengar itu, Aryu menimpali dengan perumpamaan unik. Ia mengibaratkan Rin seperti seseorang yang sudah tahu ada burung merpati sedang membuang kotoran, lalu sengaja pergi ke titik di mana ia berpeluang paling besar untuk “terkena” kotoran tersebut.

Ego kembali melanjutkan. Ia menjelaskan bahwa tentu saja ada kemungkinan bola itu jatuh ke penguasaan Tim White, yang akan memberi tim Isagi peluang emas untuk memenangkan pertandingan.

Dalam situasi seintens itu, Ego mengakui bahwa Tim Red menang berkat keberuntungan. Akan tetapi, jika mereka hanya diam mematung, peluang itu akan lewat begitu saja.

Ego memahami bahwa ada orang-orang yang memilih tidak bertindak karena mentalnya belum siap menerima sebuah kebetulan. Namun, penyesalan selalu datang terlambat ketika mereka akhirnya bergumam, “Seandainya tadi aku melakukan hal itu.”

Oleh karena itu, Ego memerintahkan mereka untuk terus meningkatkan kemampuan diri, agar selalu siap berada di posisi yang tepat untuk meraih peluang tersebut. Sebab, dewi keberuntungan hanya akan tersenyum kepada mereka yang mampu mengendusnya.

Sepak bola, tegas Ego, adalah permainan yang penuh dengan keberuntungan dan kebetulan.

Menutup penjelasannya, Ego menatap Isagi tajam dan bertanya, “Masih berpikir hasil pertandingan ini sekadar kebetulan?” Ia menambahkan bahwa orang yang merasa dipermainkan oleh keberuntungan tidak lebih dari seorang amatir.

Setelah berjuang sekuat tenaga, Ego menyarankan mereka untuk membusungkan dada, menerima hasil dari kebetulan itu, dan mengukirnya kuat-kuat di dalam benak. Sebab pada akhirnya, keberuntungan hanya akan datang dengan adil kepada mereka yang telah bekerja keras.

7. Itoshi Rin Akui Menang Beruntung

Isagi terkesima, mengira Rin memiliki pemahaman mendalam tentang cara kerja keberuntungan seperti yang dijelaskan oleh Ego.

Namun, Rin mengungkapkan bahwa tidak semua yang dijelaskan oleh Ego sepenuhnya ia ketahui. Ia mengakui bahwa dirinya bisa saja melewatkan kesempatan mencetak gol, seandainya memilih berdiam diri seperti patung di luar kotak penalti Tim White.

Rin juga jujur mengakui bahwa peluang yang diperolehnya berada di luar kendalinya, seolah merupakan kebetulan yang diciptakan oleh Isagi yang terjatuh tepat di hadapannya.

Rin kemudian memberi tahu Isagi, dengan tulus mengakui bahwa keberuntunganlah yang membuatnya mampu mengalahkan Isagi. Gol itu juga membuat Rin sadar bahwa meskipun ia mencetak gol, ia pernah kalah dalam hal prediksi melawan Isagi, yang membuatnya teringat pada kenyataan tersebut.

Isagi kemudian tersadar bahwa perbedaannya dengan Rin adalah soal tekad dan menerima hasil dari takdir pertandingan atau tidak. Ia merasa geram menyadari bahwa meskipun sempat berpikir dirinya telah mengalahkan Rin, nyatanya ia masih kalah dan dipilih oleh Rin setelah kekalahan tersebut.

Isagi pun menerima kenyataan itu, membayangkan dirinya seolah menempelkan kepingan puzzle bertuliskan “keberuntungan” ke tubuhnya yang terbuat dari puzzle, menandakan bahwa perspektif dan pengetahuannya kini telah diperbarui, dan itu menjadi langkah untuk mengalahkan Rin.

8. Striker Top Dunia

Ego memberitahu Tim Rin bahwa mereka berlima—Isagi, Rin, Bachira, Aryu, dan Tokimitsu—telah berhasil menyelesaikan seleksi kedua Blue Lock.

Ego meyakini bahwa mereka sudah mempelajari proses pembentukan chemistry dalam permainan tim. Selanjutnya, Ego menginformasikan bahwa tim Rin akan berhadapan dalam pertandingan 5 lawan 5 melawan lima striker top dunia dari berbagai negara, yang akan diadakan 24 jam lagi.

Di ruang istirahat, Tokimitsu, Bachira, Aryu, dan Isagi menyaksikan televisi yang memperlihatkan 5 striker top dunia yang akan menjadi lawan mereka besok.

Tokimitsu, bak seorang informan, menjelaskan bahwa Luna adalah pemain Spanyol dari klub Real Madrid; Adam Blake adalah striker Inggris dan pencetak gol terbanyak di Liga Inggris; Cabassos adalah pemain Argentina dan ahli free kick; Silva berasal dari Brasil; dan Julian Loki, pemain Prancis yang dijuluki “Bocah Ajaib”, masih berusia 17 tahun, seumuran mereka.

9. Isagi Meniru Latihan Rin

Isagi bertanya pada Bachira tentang keberadaan Rin. Bachira memberitahunya bahwa di penghujung hari, Rin biasanya berlatih di ruang olahraga. Di sana, Rin sedang melakukan meditasi dan yoga.

Rin terkejut saat melihat Isagi tiba-tiba berada di sebelahnya, mencoba meniru gerakan yoganya dengan wajah yang tampak kewalahan. Isagi mengaku ingin mengejar Rin dan memutuskan untuk meniru latihannya. Rin menjelaskan bahwa yoga dan meditasi adalah bagian dari pendinginan tubuhnya.

Isagi kemudian bertanya apakah Rin tidak akur dengan kakaknya. Rin menjawab bahwa hubungan mereka sebenarnya baik-baik saja, hanya sedikit canggung. Namun, menurut Rin, hubungan itu akan membaik setelah ia mengalahkan kakaknya.

Isagi mengungkapkan bahwa jika ia bisa “melahap” Rin, ia akan menjadi lebih kuat, dan menganggap Rin sebagai rival. Namun, bagi Rin, Isagi bukanlah rival atau siapa pun yang penting baginya.

Dalam hati, Isagi merasa kesal karena Rin yang baru 16 tahun itu terlihat terlalu sombong, sementara Isagi sendiri lebih tua, berusia 17 tahun. Rin kemudian memberitahu bahwa prediksinya memang kalah dari Isagi pada momen itu, tapi ia menegaskan bahwa hal itu takkan terjadi lagi.

Rin kemudian menopang seluruh tubuhnya hanya dengan satu tangan, tampak seperti melayang terbalik di udara. Isagi, yang kesulitan meniru gerakan tersebut, bertanya apakah Rin serius melakukan pose yoga.

Rin dengan sombong menyebut bahwa pose tersebut adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dikalahkan atau ditiru oleh Isagi.

Dengan sembrono, Isagi mencoba meniru gerakan itu, tetapi tangannya terpleset, dan ia menabrak Rin. Keduanya jatuh bersama. Dengan emosi, Rin menarik kerah baju Isagi, namun Isagi cepat-cepat meminta maaf.

10. Isagi & Bachira Berlatih Bersama

Malam harinya, Isagi berlatih sendirian di lapangan, bertekad untuk menjadi lebih kuat, meskipun hanya sedikit.

Tiba-tiba, sebuah bola terlempar dan mengenai bagian belakang kepalanya. Isagi menoleh dan melihat Bachira. Bachira mengajak Isagi berlatih bersama, dan Isagi setuju.

Bachira memberi tahu Isagi bahwa kini, dalam dirinya sudah tidak ada monster lagi. Isagi teringat bahwa sebelumnya, Bachira pernah mengatakan bisa mendengar dan melihat monster saat bermain bola.

Bachira menjelaskan bahwa sekarang ia hanya bermain sepak bola dengan mendengarkan suara hatinya. Itulah makna yang diperoleh Bachira saat datang ke Blue Lock dan bertemu dengan Isagi.

Dalam hati, Isagi menyadari bahwa Bachira memang masih sosok yang aneh dan sulit dipahami, tetapi Bachira selalu berhasil memberikan keberanian kepadanya. Mereka pun bertekad untuk mengalahkan lima striker top dunia esok hari.

11. Blue Lock vs Top 5

Di lapangan, Silva terkejut melihat tim Rin yang tampak keremping. Adam menagih Silva karena memenangkan taruhan, dengan berkata bahwa orang Jepang memang tidak berotot kekar seperti yang dia duga.

Bachira, Tokimitsu, dan Isagi tidak mengerti percakapan mereka karena menggunakan bahasa Inggris, tetapi Aryu, yang mengerti sedikit, menyadari bahwa mereka sedang diremehkan.

Rin kemudian menghampiri Adam dan Silva, dan dalam bahasa Inggris bertanya apakah pertandingan yang akan mereka mainkan dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Silva setuju, mengatakan bahwa tidak ada alasan lain untuk berada di Jepang selain untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Rin pun berjanji akan membuat Silva trauma setiap kali ia mengingat kunjungan wisata mereka ke Jepang.

Luna, yang menyadari ketegangan antara Rin dan Silva, mencoba menengahi. Dia mengenali Rin sebagai adik dari Sae, pemain terkenal dari tim junior Real Madrid, dan yakin bahwa Rin juga memiliki bakat luar biasa.

Pertandingan 5 vs 5 antara Tim Blue Lock—yang diperkuat oleh Rin, Aryu, Bachira, Isagi, dan Tokimitsu—melawan Tim Top 5 yang diisi oleh Adam, Luna, Cabassos, Silva, dan Loki, telah dimulai.

Isagi mengoper bola ke Bachira, yang langsung menggiring bola melewati Cabassos dengan teknik roulette, memutar tubuhnya sambil menginjak bola.

Saat Cabassos mencoba menjegal, Bachira melompat bersama bola, berhasil menghindar, dan menolak ajakan Isagi untuk melakukan umpan one-two. Bachira tidak mau mengoper kepada seseorang yang belum melampaui imajinasinya.

Isagi berlari di sisi tengah, mengiringi Bachira yang sedang didempet oleh Cabassos di sisi kanan. Ia siap beradaptasi dengan gaya sepakbola baru Bachira dan mencari posisi yang sesuai dengan imajinasi Bachira untuk menerima umpan.

Ketika Bachira menggiring bola di sisi kanan luar kotak penalti lawan, Isagi bersiap di tengah untuk menerima umpan dan melakukan tembakan langsung. Namun, tiba-tiba Loki muncul dan mengejutkan Isagi.

Bachira kemudian mengirim umpan silang. Alih-alih bola menuju Isagi, bola mengarah ke sisi kiri luar kotak penalti, tempat Rin melakukan tembakan langsung yang berhasil membobol gawang lawan. Skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Tim Blue Lock atas Tim Top 5.

Tim Top 5 terkesan dengan kemampuan Tim Blue Lock, dan mereka senang tidak melawan pemain amatir. Mereka semua tersenyum, sementara Isagi merasa semakin bersemangat untuk mencetak gol selanjutnya.