Qiuqa telah menuliskan 10 poin setelah menonton Blue Lock episode 20.

1. Strategi & Pemilihan Lawan

Ketika Tim Red dan Tim White bertemu di lapangan, Aryu terkesan dengan perawatan kutikula Chigiri, yang dianggapnya modis. Namun, Chigiri hanya mengaku menggunakan shampo biasa.

Saat berjabat tangan sebagai tanda perkenalan sebagai lawan, Chigiri memuji penampilan Aryu yang keren, tetapi menganggap namanya norak. Aryu mendadak merasa insecure setelah menyadari bahwa nama pertamanya tidak terdengar modis.

Tokimitsu kemudian berlutut di depan Barou, meminta agar pertandingan tidak dimulai dulu karena Aryu sedang down, tetapi Barou menolak mentah-mentah.

Tokimitsu menjadi panik dan overthinking, menilai bahwa Barou yang selalu percaya diri tidak pernah merasakan pesimisme dalam hidup. Kesal dianggap seperti itu, Barou menarik kerah baju Tokimitsu, menyatakan bahwa dia akan melawan Tokimitsu.

Sementara itu, Nagi menolak permintaan Isagi untuk bertukar posisi dengan Barou, karena Nagi ingin melawan Rin demi tekadnya menjadi nomor satu. Isagi pun memperingatkan Nagi bahwa jika ia kalah, maka Isagi yang akan berhadapan dengan Rin.

Pada akhirnya, Isagi ditugaskan untuk melawan Bachira. Penetapan strategi dan pemilihan lawan pun selesai.

2. Bachira Terpukau

Pertandingan Rivalry Battle 4 vs 4 antara Tim Red, yang diperkuat oleh Rin, Aryu, Bachira, dan Tokimitsu, melawan Tim White, yang diisi oleh Isagi, Barou, Chigiri, dan Nagi, pada tahap keempat telah dimulai.

Rin mengoper bola ke Bachira, yang kemudian melakukan teknik step over untuk mengecoh Isagi yang menghadangnya.

Bachira meliukkan tubuhnya dengan trik satu langkah tipuan mundur dan berputar, namun ia terkejut karena gerakan yang sering digunakannya untuk melewati Isagi sudah tidak mempan.

Bachira menduga Isagi telah membaca pergerakannya. Ia yakin Isagi mengamati seluruh lapangan untuk menentukan posisinya. Isagi tidak hanya fokus pada duel satu lawan satu dengan lawan di depannya, tetapi juga bertahan tanpa menyisakan ruang sedikit pun agar Bachira tidak bisa melewatinya.

Bachira juga menyadari bahwa Nagi, yang berada di belakang Isagi, berfungsi sebagai backup jika Isagi terlambat turun saat bertahan.

Bachira memperhatikan bahwa jika ia berlari ke sisi kanan yang tanpa penjagaan, Isagi akan membuntutinya. Bachira kagum pada kemampuan pengamatan Isagi yang semakin mengerikan.

Akhirnya, Bachira mencoba nekat menerobos sisi kiri untuk melewati penjagaan Isagi dan Nagi. Namun, Barou tiba-tiba muncul di belakangnya, sementara Isagi menjaga di depannya, menjepit pergerakan Bachira.

Bachira akhirnya memutuskan untuk mengoper bola ke Tokimitsu yang berada di belakang Barou, tetapi Isagi berhasil merebut operan tersebut. Barou kesal karena Isagi mendapatkan bola lebih dulu darinya.

Bachira terkejut, ia mengira Tim White akan tetap pada posisi masing-masing untuk melakukan kombinasi permainan. Namun, Isagi dan Barou justru saling memanfaatkan dan “melahap” satu sama lain untuk merebut bola.

Bachira kagum melihat taktik anti-kombinasi Tim White yang tidak terduga ini.

3. Chemistry Anti Kombinasi

Isagi mengirimkan umpan lambung yang menukik ke arah Nagi, yang sedang berlari menuju gawang Tim Red. Nagi segera menganalisis Rin yang berada di depannya. Rin tidak langsung bergerak untuk menjaganya karena waspada terhadap one-touch play Nagi.

Nagi berpikir, jika ia langsung melakukan dribel cepat, Rin akan segera menghentikannya. Namun, jika ia melakukan stopping saat menerima bola, Rin akan maju beberapa langkah untuk memotong pergerakannya.

Nagi terkesima melihat posisi penjagaan Rin yang sangat bagus. Hanya butuh satu pertandingan bagi Rin untuk memahami cara bermain Nagi. Akhirnya, Nagi melompat dan menendang operan Isagi yang masih melayang di udara, mengarah ke ruang kosong di sisi kiri.

Umpan tersebut ditujukan untuk Chigiri, yang berlari kencang mengejar bola. Namun, Rin dari sisi kiri dan Aryu dari sisi kanan juga bergegas untuk merebut bola, berusaha agar Chigiri tidak mencapainya.

Chigiri, dengan kecepatannya, tiba satu detik lebih cepat dan menerobos di antara Rin di sebelah kiri dan Aryu di sebelah kanan. Berada di tengah, ia merebut bola tanpa bertabrakan dengan mereka. Chigiri lalu mendorong bola ke depan dan melompat, melewati keduanya yang mencoba menghentikannya.

Dengan kecepatan lari yang mustahil dikejar, Chigiri menggiring bola dan melepaskan tendangan dari luar kotak penalti, membobol gawang Tim Red. Skor menjadi 0-1, Tim White unggul atas Tim Red.

Bachira terkesima dengan chemistry di balik proses gol Tim White. Semuanya dimulai ketika mereka merebut bola lawan, Barou dan Isagi saling “melahap” dengan taktik anti-kombinasi.

Saat Isagi mendapatkan bola, ia dan Nagi seolah memiliki pemikiran yang saling terhubung dalam menentukan serangan.

Nagi menggunakan teknik stopping untuk menjinakkan umpan lambung dari Isagi, lalu mengoper bola ke Chigiri, yang langsung bereaksi dengan kecepatan luar biasa untuk mengambil bola. Bachira merasakan “monster” dalam dirinya bersorak kegirangan.

4. Bachira Meguru

Rin mengoper bola ke Bachira. Isagi mengamati Bachira yang menggiring bola dengan tenang, sementara Bachira tetap waspada terhadap Barou, yang dikawal Tokimitsu di belakangnya, karena Barou bisa saja menyergapnya kapan saja.

Isagi merasa mustahil merebut bola saat Bachira sedang aktif menggiring. Dari sayap kanan, Aryu berlari cepat melewati Isagi menuju pertahanan Tim White, tetapi Isagi mengabaikannya karena Chigiri sudah mengawal Aryu, dan Nagi berjaga di luar kotak penalti.

Bagi Isagi, masalah sebenarnya adalah jika Bachira yang sedang menggiring bola di depannya berhasil melewatinya. Barou yang berada di belakang Bachira meneriakinya. Bachira kemudian membalikkan badan, menghadapi Barou dan membelakangi Isagi.

Isagi bergerak cepat, mencoba merebut bola dari belakang Bachira. Tanpa diduga, Bachira mengirimkan operan no-look pass, membuat bola melewati Isagi dan melambung ke arah Aryu yang sedang berlari ke depan gawang Tim White.

Aryu, yang berlari sejajar dengan Chigiri, berhasil menerima bola dari Bachira dengan jangkauan kaki panjangnya, membuat Chigiri merasa “dicurangi.” Sebagai winger kanan, Aryu langsung mengirimkan operan ke sisi kiri, mengarah ke winger kiri Tokimitsu yang dikawal Barou.

Barou mencoba melakukan body charge pada Tokimitsu, tetapi terkejut karena tidak mampu mendorongnya meskipun sudah menggunakan seluruh tenaganya. Tubuh Tokimitsu yang penuh otot membuat serangan Barou nyaris tak bergeming.

Sambil beradu tubuh dengan Barou, Tokimitsu mengirimkan operan satu sentuhan ke tengah, tepat di luar kotak penalti, dan Rin berlari mengejar bola tersebut. Isagi panik karena Rin sudah berada dalam jangkauan tembaknya.

5. Isagi Yoichi vs Itoshi Rin

Nagi segera berlari menghadang di depan Rin untuk menghalangi tendangannya. Melihat Rin bersiap menendang bola, Nagi mencoba melakukan tekel, tetapi Rin hanya melakukan trik fake shoot, sehingga Nagi terkecoh, dan Rin berhasil melewatinya.

Isagi bergegas mengejar dan menghadang di depan Rin. Dari sisi kiri, Chigiri berlari untuk membantu Isagi dalam duel dua lawan satu melawan Rin. Namun, dari sisi kanan, Bachira turun membantu Rin, sehingga pertarungan berubah menjadi dua lawan dua.

Isagi mencoba menebak apakah Rin akan mengoper bola ke Bachira atau langsung menendang. Ketika Rin kembali bersiap untuk menendang, Chigiri maju dari sisi kiri untuk memblokir, tetapi Rin sekali lagi melakukan trik fake shoot, yang membuat Chigiri terkecoh dan terjatuh.

Rin pun berhasil melewatinya. Isagi menyadari situasi semakin gawat. Aryu berada di sisi kiri, Bachira di sisi kanan, dan Rin di tengah, sementara Isagi menjadi satu-satunya pemain bertahan dari Tim White yang harus menghadapi tiga lawan sekaligus.

Isagi menilai bahwa sejak duel dua lawan dua, Rin tidak memberikan kesempatan kepada Tim White untuk membuat keputusan.

Isagi yakin bahwa semua pemain di lapangan, baik rekan maupun lawan, telah dimanipulasi oleh strategi Rin. Dengan kemampuan menendang, dribel, analisis situasi, dan perencanaan strategi yang luar biasa, Rin tidak membutuhkan chemistry dengan timnya.

Isagi menyadari bahwa Rin adalah monster di level yang berbeda, mampu menciptakan berbagai variasi serangan seorang diri tanpa bergantung pada kerjasama tim. Isagi mencoba melakukan tekel untuk menghentikan Rin yang sedang menggiring bola di depannya.

Rin memuji Isagi karena sudah belajar menggunakan matanya untuk membaca gerakan lawan di lapangan. Namun, Rin menyebut bahwa permainan Tim White membosankan dan tidak membuatnya bersemangat.

Kemudian, Rin melompati tekel Isagi dan membawa bola bersamanya saat melayang di udara. Sambil berada di udara, Rin menendang bola dari luar kotak penalti. Bola meluncur dan berhasil membobol gawang Tim White. Skor menjadi 1-1, Tim Red berhasil menyamakan kedudukan dengan Tim White.

6. Isagi Yoichi Mampu Mengimbangi Pola Pikir Itoshi Rin

Isagi yang sedang berlutut di lapangan merenung. Meskipun ia belum bisa menghentikan aksi Rin, Isagi merasa dirinya sudah semakin dekat.

Di pertandingan sebelumnya, Isagi tidak mengerti alasan kekalahannya melawan Rin, namun sekarang ia sudah mulai memahami gerak-gerik Rin. Isagi yakin, selama ia bisa “melahap” Rin, ia bisa menang.

Sambil berpikir, kepingan puzzle yang sebelumnya terlepas dari kepalanya mulai kembali terpasang, membentuk kepala Isagi dengan kepingan puzzle baru.

Ini menandakan bahwa Isagi telah mendapatkan perspektif baru. Isagi pun bertanya pada dirinya sendiri bagaimana cara menghentikan Rin dan mengendalikan permainan di lapangan.

Nagi dan Chigiri merasa kagum dengan kemampuan Rin yang mampu melewati mereka berdua dalam situasi 1 lawan 2. Isagi kemudian menjelaskan kepada mereka mengapa Rin tampak begitu sulit dihentikan.

Isagi mengetahui bahwa saat Rin menggiring bola di zona tembaknya, Rin dengan cerdik memancing Chigiri dan Nagi untuk berpikir bahwa ia akan segera melepaskan tembakan, membuat mereka selalu tertinggal satu langkah.

Saat Nagi dan Chigiri bergantian mencoba memblokir tendangan Rin, hal ini justru memberi kesempatan bagi Rin untuk menjalankan prediksinya. Dengan melakukan trik fake shots, Rin berhasil mengelabui mereka.

Rin berpura-pura akan menendang bola dengan gerakan tubuh yang seolah-olah siap melepaskan tembakan, namun ia mengubah kecepatan dan arah gerakannya untuk memperdaya lawannya.

Isagi menyimpulkan bahwa strategi dasar Rin adalah memprediksi situasi di lapangan beberapa langkah ke depan sebelum orang lain menyadarinya, sambil memancing lawan agar tidak mampu memikirkan langkah berikutnya.

Setelah mendengar analisis Isagi, Nagi mengakui bahwa ia tidak mampu menandingi cara berpikir Rin, sementara Chigiri memuji Isagi sebagai sosok yang luar biasa karena mampu memahami pola pikir Rin.

Isagi pun menemukan jawabannya: hanya sepasang mata dan otaknya yang bisa menghentikan Rin di lapangan.

7. Itoshi Rin Prediksi Pergerakan Isagi Yoichi

Nagi mengoper bola ke Chigiri. Isagi memperhatikan Chigiri yang dihadang oleh Aryu dan mulai menganalisis dua kemungkinan: apakah Chigiri akan mencoba melewati Aryu atau mengoper bola?

Namun, Isagi melihat Rin berada di belakang Aryu, siap bereaksi terhadap kedua opsi yang mungkin diambil Chigiri. Keadaan ini memberikan keuntungan bagi Nagi yang kini bebas dari penjagaan Rin.

Chigiri berhasil melewati Aryu dan terus menggiring bola di sisi kiri. Sementara itu, Bachira berlari memposisikan dirinya di tengah, berada di depan Nagi dan di belakang Isagi. Isagi tahu bahwa Bachira tidak mungkin bisa menjaga Nagi dan dirinya sekaligus.

Saat perhatian Bachira terfokus pada Nagi, Isagi melakukan pergerakan tanpa bola dengan cepat, menyusup di antara Bachira dan Nagi. Chigiri yang berlari di sisi kiri melihat Isagi bebas dan mengirimkan umpan silang yang akurat ke arah Isagi, yang berada di depan gawang Tim Red.

Tepat ketika Isagi merasa yakin akan menerima umpan tersebut, Rin tiba-tiba melompat dan merebut bola di udara, memotong umpan Chigiri sebelum Isagi bisa menjangkaunya.

Isagi terkejut melihat bagaimana Rin membaca pergerakannya dengan sempurna dan tiba lebih cepat di tempat yang Isagi prediksi.

8. Chemistry Bachira Meguru & Aryu Jyubei

Rin kemudian menggiring bola dari sisi kiri menuju gawang Tim White, namun Nagi dan Barou berusaha menghadangnya. Rin dengan cerdik mengoper bola ke Bachira yang berada di tengah lapangan.

Isagi segera menginstruksikan timnya untuk bersiap menghadapi serangan balik Tim Red. Bachira, kagum dengan perkembangan Isagi yang mampu bersaing dengan Rin.

Isagi kemudian menghadang Bachira. Namun, Bachira dengan cerdik mengirim operan backspin yang melesat kencang dari bawah, melambung tinggi ke udara, dan mengarah ke Aryu yang bergerak di sayap kanan.

Chigiri berlari sejajar dengan Aryu, mengikuti gerakannya menuju titik pendaratan umpan Bachira, sementara Nagi bersiap menghadang Aryu di depan kotak penalti.

Isagi menganalisis situasi: dengan tinggi badan Nagi yang seimbang, dia bisa mengantisipasi lompatan Aryu jika bola di sundul di titik pendaratan, sedangkan Chigiri, dengan kecepatannya, bisa tiba di titik jatuh bola lebih cepat daripada Aryu.

Isagi merasa percaya diri bahwa umpan Bachira bisa digagalkan.

Namun, Aryu tampaknya mengerti apa yang diinginkan Bachira. Dia sadar bahwa menunggu bola di titik pendaratan akan membuatnya direbut oleh lawan.

Solusinya adalah mengeksekusi bola saat masih melayang di udara, di titik yang hanya bisa dijangkau dengan senjata lompatan Aryu.

Saat Chigiri dan Nagi tiba lebih dulu di titik jatuh bola, Aryu, yang berada di belakang mereka, melompat lebih tinggi dan lebih cepat di jalur bola sebelum bola menyentuh tanah.

Aryu menyundul bola, yang langsung membobol gawang Tim White. Skor menjadi 2-1, Tim Red unggul atas Tim White.

9. Nagi Seishiro

Sambil berjongkok, Nagi merasakan gairah yang menggebu karena pertandingan begitu seru. Ia terpesona menyaksikan Isagi dan Rin bertarung habis-habisan untuk merebut kendali di lapangan.

Bahkan, Rin yang biasanya dominan, tampak kewalahan menghadapi Isagi. Nagi juga menyadari bahwa ide Bachira telah menciptakan chemistry permainan di antara Tim Red, sehingga pertandingan tidak lagi bergantung pada kemampuan individu semata.

Nagi bertekad ingin mengalahkan Tim Red. Ia tersadar bahwa semangatnya yang menggebu ini berasal dari Reo, yang dulu mengajaknya bermain bola. Dalam hati, Nagi membenarkan penilaian Reo: sejak datang ke Blue Lock dan merasakan kekalahan, ia telah sedikit berubah.

Nagi meminta maaf kepada Reo dalam hatinya, karena keinginannya untuk menjadi lebih kuat membuatnya tidak bisa terus bersama Reo. Ia merasa bahwa bertarung bersama Isagi telah mengubahnya, dan ia berharap Reo akan mengerti.

Nagi kemudian mengoper bola ke Chigiri. Ia mengamati situasi di mana Chigiri berlari kencang di sisi kiri, sementara Isagi bergerak ke tengah, mengincar operan Chigiri dan menggunakan Barou, yang bergerak di sekitar Chigiri, sebagai umpan.

Isagi berlari ke posisi di luar jangkauan Rin untuk bersiap melakukan direct shoot di depan gawang. Namun, Nagi tahu bahwa Rin sudah memahami rencana Isagi.

Nagi berpikir bahwa visi permainan Rin dan Isagi berada di level yang sama, tetapi Isagi tidak bisa mengalahkan Rin karena perbedaan keterampilan fisik di antara mereka.

Prediksi Rin selalu selangkah lebih maju, dan itulah sebabnya Rin berhasil menggagalkan Isagi dalam menerima umpan dari Chigiri sebelumnya.

Menyadari hal ini, Nagi memutuskan bahwa dirinya harus menjadi potongan terakhir dari teka-teki ini agar Isagi bisa mengalahkan Rin.

10. Nagi Kalahkan Rin

Tak mau menjadi “badut” yang mudah ditebak, Nagi bertekad menghancurkan gambaran masa depan lapangan yang diprediksi oleh Isagi dan Rin. Nagi bergerak cepat ke sisi kiri, dekat dengan Chigiri, dan meminta umpan, yang mengejutkan Rin dan Isagi.

Pergerakan Nagi berhasil memicu kreativitas Isagi. Untuk mengecoh Rin yang menghadangnya, Nagi membiarkan bola operan dari Chigiri melewati kakinya, sehingga bola terkirim ke Isagi di tengah.

Nagi berharap, dengan visi Isagi, dia dapat mengatur serangan agar Nagi bisa mencetak gol.

Melihat Nagi maju ke depan gawang dengan Rin membuntutinya, Isagi mengirim umpan lambung ke belakang Rin. Saat Rin berhenti sejenak untuk membaca arah umpan, Nagi berlari mendahuluinya, bersiap menendang bola yang melayang di udara.

Namun, Nagi terkejut ketika Rin berhasil merespons strategi dadakan yang direncanakan oleh dirinya dan Isagi. Rin berlari di sampingnya untuk mencoba menggagalkan tendangan Nagi.

Untuk mengecoh Rin, Nagi berpura-pura melakukan tendangan voli, tetapi sebenarnya hanya melakukan trap untuk menambah putaran bola yang masih melayang di udara.

Rin terkecoh dan terpeleset saat mencoba memblok tendangan tersebut. Saat bola mulai turun, Nagi melakukan tendangan voli pada bola yang masih melayang, dan berhasil menjebol gawang Tim Red. Skor 2-2, Tim White berhasil menyamakan kedudukan.

Isagi terkesima melihat gol Nagi yang tampak seolah lahir dari bakat dewa.

Di dalam hatinya, Nagi tersadar dan berbicara pada dirinya sendiri bahwa bersama Isagi, ia bisa terus menjadi lebih hebat. Ia meminta maaf kepada Reo karena tidak bisa kembali ke masa sebelum merasakan kesenangan bermain bersama Isagi.

Bachira kemudian menyapa Rin, yang tampak emosi, “Apa kau tertipu, Rin? Masih menganggap bosan melawan Tim White?” Sambil mengangkat poninya dengan tangan, Rin menjawab dengan kesal, “Berisik. Aku juga bisa kesal saat sedang frustrasi.”