Qiuqa telah menuliskan 10 poin setelah menonton Blue Lock episode 22.
1. Formula Permainan Rin

Isagi merenung bahwa meskipun ia telah mengantisipasi penurunan pergerakan lawan akibat kelelahan, Rin lebih dulu menyadari bahwa stamina Tokimitsu masih penuh dan pergerakannya belum melambat.
Rin kemudian memanfaatkan stamina tak terbatas Tokimitsu, menciptakan peluang besar di momen krusial pertandingan.
Isagi berandai-andai, jika saja ia bisa menyadari kondisi stamina Tokimitsu lebih awal daripada Rin, mungkin ia bisa mengantisipasi prediksi Rin.
Isagi merasa geram karena Rin selalu selangkah lebih cepat dalam memprediksi permainan—meskipun ia terlihat hampir bisa mengejar, tetap saja ia tertinggal dari Rin.
Barou mengoceh bahwa jika dia yang menjadi pagar, dia pasti akan melompat tanpa ragu untuk menghadang tendangan bebas Rin.
Dalam hati, Isagi tahu tendangan bebas Rin berhasil justru karena Isagi yang menjadi pagar, dan Rin sengaja mengarahkan bola melewati kepalanya yang tidak melompat. Isagi berpikir, jika Barou yang menjadi pagar, Rin mungkin akan menendang dengan cara lain dan tetap mencetak gol.
Ketika berpikir, tubuh Isagi terasa seperti kumpulan puzzle, dan kepingan puzzle di kepalanya serta tubuhnya terkikis, lalu beterbangan mengelilinginya. Dia menyadari bahwa Rin sengaja menendang bola yang menukik karena tahu Isagi, yang berada di pagar, tidak akan melompat.
Dari perspektif baru ini, Isagi merasa seolah Rin berkata, “Jika aku bisa memanfaatkan Isagi dengan benar, aku bisa melahapnya.” Menurut Isagi, formula yang sama seperti yang digunakan Rin inilah yang akan berhasil untuk mengalahkan Rin.
2. Off The Ball

Nagi mengoper bola ke Chigiri. Barou merasa heran karena Isagi, yang biasanya lebih aktif di depan, kali ini berada di belakangnya, seolah mengikuti setiap pergerakannya.
Barou pun melakukan gerakan yang berhasil melewati Tokimitsu dan terbebas dari penjagaannya. Barou meminta operan dari Isagi, berpikir bahwa itulah rencana Isagi. Namun, Tokimitsu kembali berlari untuk menjaga Barou dengan ketat.
Sementara itu, Isagi berlari bebas menggiring bola tanpa halangan. Barou dan Tokimitsu terkejut, dan Barou kesal karena Isagi telah memanfaatkan pergerakannya.
Bachira kemudian menghadang Isagi dan menghentikan langkahnya. Barou, yang dikawal ketat oleh Tokimitsu di samping Isagi, meminta operan, yakin bahwa Isagi tidak akan mampu melewati Bachira dengan dribelnya.
Di sisi lain, Nagi yang berada di sebelah kiri Barou juga meminta operan, menawarkan permainan one-two. Namun, Isagi menyadari bahwa Rin, yang berada di belakang Bachira, pasti telah memprediksi semua kemungkinan itu dan tahu bagaimana cara mengantisipasinya.
Isagi lalu mengirim umpan silang ke sisi kiri lapangan. Chigiri dengan sigap menerima operan tersebut, dan Aryu langsung mengikuti Chigiri yang sedang menggiring bola.
Pemain Tim White pun berlari menuju area penalti lawan untuk menantikan umpan crossing dari Chigiri, sementara pemain Tim Red berusaha keras membuntuti untuk menghalangi dan merebut bola.
Di saat semua pemain berlari dalam garis lurus di sisi kanan lapangan, Isagi, dengan gerakan off the ball yang brilian, berhasil melepaskan diri dari pandangan Rin. Dia kemudian berlari secara diagonal ke kotak penalti Tim Red, menantikan umpan dari Chigiri.
Dengan kecepatannya yang luar biasa, Chigiri mengirimkan umpan crossing akurat ke arah Isagi, yang sudah siap di depan gawang Tim Red.
3. Isagi Kalahkan Rin

Sialnya, saat Isagi sedang mengejar bola hasil operan Chigiri dan bersiap melancarkan direct shoot, Rin tiba-tiba muncul di posisi sejajar dengan Isagi untuk berusaha merebut bola. Namun, Isagi dengan cerdik memutar badannya sehingga punggungnya menghadap Rin.
Terkecoh oleh gerakan Isagi tersebut, Rin mencoba merebut bola di depan Isagi. Namun, Isagi dengan cepat melancarkan tendangan backheel dengan tumitnya dan mengarahkan bola ke gawang Tim Red.
Tendangan itu berhasil menjadi gol spektakuler. Skor 4-4, Tim White berhasil menyamakan kedudukan.
Selebrasi gol Isagi disambut meriah oleh Tim White. Nagi kagum dan memuji kehebatan Isagi yang mampu mengalahkan Rin dalam pertarungan satu lawan satu.

Tertarik dengan proses gol spektakuler Isagi, Barou dengan rasa ingin tahu yang besar bertanya kepadanya. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan, Isagi menjelaskan triknya dalam menghadapi Rin.
Isagi tahu bahwa Rin sudah memprediksi Isagi akan melakukan tendangan langsung setelah menerima umpan dari Chigiri di depan gawang. Karena itu, jika Isagi langsung menendang, Rin pasti akan mengantisipasi dan memblokirnya.
Namun, Isagi memutuskan untuk hanya menerima bola dengan kaki sambil memunggungi Rin, memaksa Rin bergerak ke depan untuk menghentikannya. Di tahap ini, prediksi mereka menjadi 50:50, dan titik buta saat Rin bergerak untuk merebut bola di depan Isagi adalah prediksi yang diinginkan Isagi.
Hal ini memungkinkan Isagi melancarkan backheel yang berujung gol.
Isagi menjelaskan bahwa gol itu berhasil karena ia memanfaatkan Rin, karena ia yakin Rin memprediksi situasi yang sama dengan dirinya.
Barou menilai bahwa jika prediksi Isagi gagal, lawan akan melakukan serangan balik dan membahayakan Tim White. Chigiri mengakui kehebatan Isagi dan menyadari bahwa gol seperti itu tak akan mungkin terjadi tanpa pemahaman yang sama antara Isagi dan Rin.
4. Nagi Vs Aryu

Rin memerintahkan timnya untuk mengerahkan kemampuan terbaik mereka, karena ia akan mengatur strategi agar timnya bisa mencetak gol. Rin mengoper bola ke Tokimitsu, dan mereka melakukan umpan one-two, menyerang dari tengah lapangan.
Namun, Barou melakukan pressing yang menghentikan pergerakan Tokimitsu saat membawa bola. Chigiri berlari untuk merebut bola, tetapi Tokimitsu yang panik segera mengoper ke Rin.
Isagi bergerak cepat untuk merebut bola dari Rin, namun Rin berhasil menahan tubuh Isagi sambil mengontrol bola, lalu mengirim umpan lambung ke Aryu yang berada di sisi kanan lapangan, dijaga oleh Nagi.
Aryu melompat dan mengontrol bola dengan dadanya. Mengetahui bahwa ia akan kalah jika melompat bersama Aryu, Nagi menunggu waktu yang tepat sebelum akhirnya melompat untuk merebut bola dengan kakinya.
Namun, Aryu dengan lompatan yang lebih tinggi berhasil merebut bola dari Nagi menggunakan kakinya. Nagi terkesima dengan lompatan serta kaki panjang Aryu yang membuatnya kalah dalam perebutan bola.
Aryu berlari menggiring bola, dibuntuti oleh Nagi, sementara Rin dan Isagi berlari bersama. Rin menunggu operan dari Aryu, sementara Isagi bersiap mengantisipasi operan tersebut.
Aryu kemudian mengoper bola ke Bachira, yang berada bebas di tengah lapangan, tepat di belakang Rin. Bachira merasa seolah sedang menghadapi ujian hidup dan ragu harus berbuat apa—apakah sebaiknya mengoper atau mendribel bola untuk menerobos sendirian.
Bachira bingung bagaimana caranya agar keberadaannya di lapangan bisa benar-benar dirasakan oleh Isagi dan Rin.
Saat Bachira terlalu lama terjebak dalam pikirannya, Chigiri datang dengan tekel keras, membuatnya jatuh tersungkur, dan bola rebound mengalir ke kaki Barou.
Chigiri langsung menginstruksikan Tim White untuk melakukan serangan balik, sementara para pemain Tim Red berlari membuntuti pergerakan pemain Tim White.
5. Ketakutan Bachira

Nagi berlari mengiringi Bachira dan dengan kata-kata tajam mengomentari tindakan Bachira yang terlihat bingung, tidak seperti biasanya.
Nagi bahkan bertanya apakah Bachira sengaja mengalah. Ia menjelaskan bahwa Bachira sebaiknya tidak berasumsi akan dipilih jika Tim Red kalah, karena Nagi lebih tertarik untuk merebut Rin.
Nagi yakin bahwa teman dekat Bachira, Isagi, juga kemungkinan besar akan memilih Rin—pemain dengan bakat luar biasa yang saat ini menduduki peringkat pertama di Blue Lock.
Ucapan Nagi mengguncang batin Bachira, memicu ketakutan besar dalam dirinya. Ia mulai membayangkan betapa sulitnya bermain sepak bola tanpa kehadiran dua sosok monster seperti Rin dan Isagi.
Sambil memandangi Rin dan Isagi yang berlari di depan matanya, Bachira merasa ngeri memikirkan kemungkinan bahwa Isagi tidak akan memilihnya jika Tim Red kalah. Itu berarti Bachira tak akan bisa bermain bersama Isagi dan Rin lagi. Bachira pun bertekad takkan membiarkan hal itu terjadi.
Isagi meminta operan dari Barou dan menyuruhnya untuk tidak meladeni duel fisik dengan Tokimitsu. Barou pun mengoper bola ke arah Isagi, yang sedang dikawal oleh Rin.
Namun, tanpa menunda, Isagi langsung mengoper cepat kembali ke Barou, dan Barou segera memahami permainan yang diinginkan Isagi.
Isagi sadar bahwa ia dan Barou bisa mengelabui prediksi Rin dan mengatasi kecepatan Tokimitsu, karena sepanjang pertandingan mereka saling merebut bola sepanjang pertandingan. Saat Tokimitsu menghadang Barou, ia mengoper ke Isagi, dan Isagi segera mengembalikannya ke Barou.
Sementara itu, Bachira berlari dengan panik, mengejar Tim White yang berhasil menerobos pertahanan Tim Red. Setiap langkahnya dibayangi rasa takut akan ditinggalkan oleh Rin dan Isagi. Ia dihantui oleh kekhawatiran harus kembali mengalami kehampaan, seperti dulu saat ia bermain sendirian tanpa teman yang memahami permainan sepak bola seperti yang ia inginkan.
Dalam pikirannya, Bachira menyelami ingatannya. Ia menyadari bahwa yang perlu ia percayai bukanlah teman atau monster, melainkan pesan ibunya yang menyuruhnya untuk selalu mendengarkan suara hatinya.
6. Rin Gagalkan Peluang Gol Isagi

Isagi terkejut ketika Bachira tiba-tiba bermain agresif dan melakukan tekel dari samping. Namun, Isagi dengan cekatan melompat, membawa bola bersamanya ke udara, menghindari tekel tersebut.
Sesaat kemudian, Rin bergerak cepat untuk merebut bola dari Isagi, tetapi Isagi lebih dulu mengirimkan umpan ke sisi kanan lapangan untuk Chigiri.
Chigiri langsung melepaskan umpan crossing ke dalam kotak penalti Tim Red, di mana Barou dijaga oleh Tokimitsu, sementara Nagi berada dalam posisi bebas.
Nagi melompat ke udara, menerima umpan dari Chigiri dan mengontrol bola dengan dadanya. Bola dari Nagi mendarat ke arah Isagi, yang sedang berlari dibuntuti oleh Bachira dan berada di luar kotak penalti.
Isagi kemudian membidik dengan matanya, mencari jalur untuk menendang ke sudut kanan atas gawang.
Saat Isagi bersiap melakukan tendangan yang tampak akan menjadi penentu kemenangan bagi Tim White, Bachira panik, takut kalah, dan berharap dalam hati agar Isagi tidak segera mengakhiri pertandingan, memberinya kesempatan untuk berbenah diri.
Namun, Isagi melancarkan direct shoot ke gawang Tim Red. Sayangnya, Rin berhasil memblok tendangan tersebut dengan sundulan kepala, sehingga bola gagal masuk ke gawang.
Bola rebound dari sundulan Rin memantul keluar kotak penalti dan jatuh di kaki Bachira, yang saat itu berada dalam posisi bebas. Bachira segera menggiring bola menuju gawang Tim White, diikuti oleh Aryu dan Tokimitsu yang berlari untuk mendukung serangan balik.
7. Suara Hati Bachira

Saat berlari, Bachira merasakan tekanan batin yang kuat, setiap langkahnya dibayangi oleh “monster” teman khayalannya. Ia berbicara pada dirinya sendiri, meminta monster itu untuk tidak muncul lagi.
Selama ini, tanpa sadar, Bachira selalu mencari keberadaan monster di lapangan, yang memandunya untuk mengoper kepada orang yang bisa memainkan sepak bola sesuai keinginannya.
Bachira teringat bahwa alasan ia menciptakan monster khayalan adalah untuk memiliki teman bermain bola, agar dirinya yang masih kecil tidak merasa kesepian. Namun, kini Bachira menyadari bahwa pencarian monster itu telah membuatnya melupakan suara hatinya.
Bachira mulai bermain bola hanya untuk mendukung monster dan memberikan umpan agar monster bisa mencetak gol. Karena itu, Bachira ingin monster tersebut menghilang—sekarang, ia merasa tidak lagi membutuhkannya.
Isagi berusaha mencegat Bachira, berniat merebut bola. Ia tak akan membiarkan Bachira melewatinya, karena itu berarti Tim Red akan menang. Bachira melihat monster di belakang Isagi dan sempat berpikir untuk mengoper, seandainya ada rekan di belakang Isagi sesuai arahan monster.
Namun, Bachira tersadar bahwa ia harus menghentikan kebiasaan mencari monster di lapangan. Ia tahu bahwa monster memang menjadi harapan dan teman setianya saat bermain sepak bola, tetapi tanpa disadari, monster itu juga menjadi belenggu yang membatasi imajinasinya.
Bachira juga sadar bahwa sejak bertemu Isagi di Blue Lock, Isagi telah menjadi “monster” nyata baginya. Kehadiran Isagi memberi makna baru dalam hidup Bachira, membuatnya senang bermain sepak bola.
Namun, hal itu juga membuat Bachira ketergantungan pada Isagi, hingga ia merasa tidak mampu bermain bola tanpa Isagi di sisinya.
Kini, Bachira paham bahwa jika ia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu monster, ia tidak akan bisa maju dan tidak akan bisa mendengar suara hatinya sendiri.
8. Bachira Terkepung

Di sisi kiri, Tokimitsu yang dibuntuti oleh Barou meminta operan dari Bachira. Namun, Bachira menolak mengoper karena melihat “monster” pada Tokimitsu.
Bachira kemudian melakukan nutmeg pada Isagi yang berusaha menghadangnya, lalu melanjutkan dribel melewati Isagi.
Chigiri, yang berlari kencang, mencoba menghadang di depan Bachira. Namun, Aryu yang melakukan overlapping di sisi kanan, turut meminta operan karena berada di posisi ideal dan tak terkawal.
Bachira kembali menolak mengoper karena melihat “monster” pada Aryu. Dia kemudian melakukan nutmeg pada Chigiri dan terus menggiring bola melewatinya.
Barou, yang berlari di belakang Bachira, menarik bahunya dan mengimbangi laju Bachira, mengatakan bahwa Bachira sedang dalam mode “menggila.”
Dalam hatinya, Bachira menyebut dirinya sedang berusaha melepaskan belenggu monster. Dengan gerakan cepat, Bachira melakukan nutmeg pada Barou dan terus menggiring bola melewatinya.
Isagi, yang berlari di belakangnya, mengamati bahwa Bachira adalah joker di lapangan—pemain yang tak bisa diprediksi oleh siapapun.
Nagi menghadang dari depan, Chigiri di kiri, dan Barou di belakang. Ketiganya mengepung Bachira, berusaha menghentikan aksinya. Isagi yakin timnya akan berhasil merebut bola dari Bachira, yang ngotot mencoba menerobos sendirian.
Isagi melihat Rin, yang berlari di sebelahnya, tiba-tiba melakukan gerakan off the ball saat Isagi lengah. Rin bergerak ke sisi kiri Bachira, yang sedang dikepung, dan menemukan ruang bebas.
Rin berada di posisi terbaik untuk langsung menuju gawang setelah menerima bola dari Bachira. Namun, Isagi, yang berada di belakang Rin, sudah menyiapkan prediksi untuk mengantisipasi dan merebut bola dari Rin.
Barou memperingatkan Bachira bahwa pertahanan Tim Red kosong, sementara Chigiri menegaskan bahwa ini adalah akibat dari tindakan ceroboh Bachira. Nagi menyatakan bahwa mereka akan memiliki kesempatan serangan balik jika berhasil merebut bola dari Bachira.
9. Kebangkitan Sang Ahli Dribel Bachira

Terkepung oleh tiga pemain lawan, Bachira kemudian melakukan gerakan air elastico, membuat bola melayang di udara. Gerakan ini mengejutkan Rin dan Isagi, yang sedang sibuk memprediksi langkah berikutnya.
Tokimitsu dan Aryu pun mengkritik Bachira, menyebutnya ceroboh karena terus mencoba menerobos tanpa mengoper. Isagi sadar ada hal yang tak bisa diprediksi Rin dari Bachira. Dalam hatinya, Isagi ingin melahap sosok monster dari Bachira untuk mengalahkan Rin.
Bachira kemudian tersadar bahwa asal-usul dirinya dahulu adalah seorang penganut sepak bola gaya bebas dengan bakat luar biasa. Karena terlalu jago mendribel, tidak ada yang mau bermain bola dengannya.
Kini, Bachira kembali menjadi pemain egois, mengingat kembali kebahagiaan masa lalu saat bermain bola, bahkan dalam kesendirian, hingga hari gelap.
Meski sering ditertawai atau dianggap aneh, bahkan berakhir tanpa teman, baginya tidak ada yang lebih menyenangkan selain menyatu dengan bola. Itu sudah cukup menjadi alasan untuk bermain.
Setelah melakukan beberapa juggling, Bachira mengejutkan semua orang dengan Rainbow Flick yang berhasil melepaskannya dari kepungan tiga pemain Tim White: Barou, Chigiri, dan Nagi.
Nagi yang berada di belakangnya, mencoba menarik bahu Bachira. Sementara itu, Rin melakukan overlapping di sisi kiri, berharap menerima operan karena berada di posisi ideal dan tak terkawal.
Namun, Bachira menolak mengoper lagi setelah melihat “monster” pada Rin. Bachira lalu memutar badannya di udara, terlepas dari tarikan Nagi di bahunya, dan kembali mengejar bola.
10. Selamat Tinggal Monster

Bachira dengan tegas memutuskan untuk tidak lagi melayani “monster” dalam permainannya dan menghentikan kebiasaan mengoper kepada makhluk khayalannya.
Bachira pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada monster yang selama ini menjadi sahabat setianya di lapangan. Kini, dari lubuk hatinya, Bachira tidak peduli jika tidak ada yang menemani atau jika ia harus mengalami kesepian lagi. Ia siap bertempur demi dirinya sendiri.
Dalam hati, Bachira mengucapkan selamat tinggal kepada monster dan juga siap berpisah dengan Isagi, yang selama ini membuatnya bahagia bermain sepak bola.
Dengan penuh keyakinan, Bachira memilih untuk mengandalkan gaya sepak bola bebasnya. Ia akhirnya berhasil mengusir sosok monster tersebut dari hidupnya, menghapusnya selamanya, seakan menghilang seperti kabut yang terbawa angin.
Bachira pun berubah menjadi pemain yang egois, tidak lagi memberi umpan kepada orang lain, karena kini ia hanya memiliki satu tujuan yang jelas: mencetak gol untuk dirinya sendiri.




















