Qiuqa telah menuliskan 10 poin setelah menonton Blue Lock episode 24.
1. Tim Top 5 Comeback

Rin memuji kinerja timnya dan meminta mereka terus bergerak, mengirimkan umpan kepadanya. Bachira menyebut bahwa sejak Isagi bergabung, pergerakan Rin di lapangan terasa berbeda.
Isagi menganalisis bahwa gol Rin terinspirasi oleh pergerakannya tanpa bola, saat ia mencoba menyelaraskan dengan imajinasi Bachira.
Ketika Isagi melakukan lari yang canggung untuk mengalihkan perhatian lawan di luar kotak penalti, Rin berhasil memanfaatkan umpan Bachira dengan sebuah direct shoot.
Aryu menganalisis bahwa chemistry antara Isagi dan Bachira mendorong serangan mereka ke depan, yang kemudian diselesaikan oleh Rin dengan sebuah gol. Aryu menyimpulkan bahwa ketiganya menciptakan serangan segitiga.
Aryu dan Tokimitsu mendekati Isagi; Aryu meminta izin untuk bergabung dan membuat “serangan segiempat,” sementara Tokimitsu ingin membuat “serangan segilima.” Rin menegaskan bahwa tim mereka akan menang.
Luna mengoper bola ke Loki. Isagi mencoba menghadang, mengira Loki akan melakukan operan, namun Loki diam sejenak dan memberi tahu Isagi bahwa ada banyak titik lemah dalam jarak di antara mereka.
Dengan kecepatan kilat, Loki melewati Isagi, membuatnya terpukau. Akselerasinya yang luar biasa membuatnya dengan mudah melewati Bachira. Tanpa mengurangi kecepatan, Loki terus mendribel bola dengan langkah lebar, melewati Tokimitsu dan Aryu, membuat mereka tidak berkutik.
Loki memuji Rin karena memiliki penglihatan yang bagus, mampu membaca rutenya dan mencoba menghadang. Namun, Loki kembali meningkatkan kecepatannya, dengan mudah melewati Rin, dan menendang bola yang sukses menjebol gawang Tim Blue Lock.
Skor menjadi 1-1, Tim Top 5 berhasil menyamakan kedudukan.
Bachira mengoper bola ke Rin, namun Rin terhenti saat Loki menghadangnya. Luna, yang berada di dekatnya, bertanya kepada Rin apakah dia takut dengan kecepatan Loki sambil merebut bola.
Luna menyindir bahwa pandangan Rin masih sempit karena kurang pengalaman. Luna kemudian mengoper bola ke Cabassos.
Bachira dan Isagi berusaha menghentikannya, tetapi tendangan Cabassos menerobos di antara mereka, mengirimkan umpan lambung ke depan gawang Tim Blue Lock. Silva berada di sisi kanan, dikawal oleh Aryu, sementara Adam berada di sisi kiri, dijaga oleh Tokimitsu.
Dalam duel udara, Silva mengalahkan Aryu dan menyundul bola ke dalam kotak penalti Tim Blue Lock.
Ketika Tokimitsu mencoba mengamankan bola, Adam melakukan body charge, menjatuhkan Tokimitsu, dan kemudian menendang bola ke gawang, menghasilkan gol. Skor berubah menjadi 1-2, Tim Top 5 unggul atas Tim Blue Lock.
2. Tim Top 5 Bantai Tim Blue Lock

Cabassos mengoper bola ke Adam, Adam mengoper ke Loki, Loki memberikan umpan ke Silva, dan Silva menyundul bola masuk ke gawang, mencetak gol. Isagi tersadar bahwa mereka sedang melawan tim yang seolah mustahil dikalahkan.
Aryu kalah dalam duel fisik melawan Silva, dan Tokimitsu kalah body charge dari Adam, hingga Cabassos akhirnya mencetak gol. Skor berubah menjadi 1-4, Tim Top 5 unggul jauh atas Tim Blue Lock.
Isagi syok melihat perbedaan level antara mereka dan para pemain dunia, sekaligus terkesima dengan keinginan untuk mencapai level tersebut.
Rin, yang murka, berteriak bahwa pertandingan belum usai. Dia menghadang Luna yang sedang menggiring bola. Luna mengakui bahwa Rin memang adik Sae, karena hanya Rin yang masih berpikir bisa memenangkan pertandingan.
Namun, Luna siap menghancurkan semangat Rin. Dengan step over cepat, Luna melewati Rin menggunakan teknik nutmeg, mengolongi kakinya. Sambil berlari, Luna menyindir Rin agar tidak ceroboh membuka kakinya terlalu lebar.
Dari luar kotak penalti, Luna menendang bola dan mencetak gol. Skor menjadi 1-5, Tim Top 5 mengalahkan Tim Blue Lock.
Saat pertandingan usai dan Tim Top 5 berjalan pergi, Adam meminta Tim Rin untuk tidak terlalu murung karena pertandingan ini hanya untuk penilaian. Silva menegaskan bahwa mustahil bagi Tim Rin untuk menang melawan mereka.
Cabassos mengatakan bahwa dia akan melaporkan kemampuan Tim Rin kepada Ego, sementara Luna berharap bisa bertemu mereka lagi dalam pertandingan sungguhan. Loki hanya tersenyum dan pergi tanpa sepatah kata.
Aryu, Bachira, Isagi, dan Tokimitsu terengah-engah kelelahan usai pertandingan, sementara Rin hanya bisa merasakan amarah karena kekalahan tersebut.
3. Hasil Pelatihan Blue Lock

Elit JFU mengadakan rapat khusus dengan Ego dan Anri. Anggota JFU mengeluhkan biaya proyek Blue Lock, yang menghabiskan anggaran sebesar 100 juta yen untuk membayar masing-masing dari 5 striker top dunia, ditambah bonus satu juta yen untuk setiap gol yang mereka cetak.
Anggota JFU mulai panik dan menanyakan, sampai kapan Ego akan terus menghabiskan uang mereka demi proyek Blue Lock yang dianggap sembrono, serta mempertanyakan apa sebenarnya tujuan dari semua ini.
Ego menjawab bahwa tujuan proyek ini adalah memberikan peserta Blue Lock kesempatan untuk merasakan langsung sensasi dunia sepak bola profesional.
Ego juga menyindir anggota JFU, menyatakan bahwa dirinya tidak berharap banyak dari mereka yang sudah tua, menyerah pada mimpi, dan tidak paham dengan impian besar. Ego menyarankan mereka untuk tutup mulut dan diam.
Buratsuta kemudian memperingatkan Ego bahwa proyek Blue Lock akan ditangguhkan, karena banyak keluhan dari orang tua peserta, serta proyek ini dianggap tidak jelas tujuannya dan belum membuahkan hasil apa pun.
Namun, Ego dengan percaya diri menyatakan bahwa dirinya siap menunjukkan hasil nyata. Ia meminta Buratsuta untuk menyiapkan pertandingan besar yang akan menjadi tantangan bagi Tim Blue Lock, karena Ego yakin bahwa era baru Blue Lock untuk mengubah sepak bola Jepang telah tiba.
4. Isagi Ingin Lampaui Rin

Di ruang istirahat, Isagi mengungkapkan bahwa mereka tak berdaya melawan 5 striker top dunia. Aryu mengakui bahwa dia sempat merasa bertambah kuat setelah bergabung dengan Blue Lock, namun kini sadar akan keterbatasan kemampuannya sendiri.
Bachira merasa bahwa setelah bertanding melawan pemain-pemain top yang biasa dia lihat di televisi, dia kini seolah pantas bermain di level yang sama. Tokimitsu setuju, meskipun level mereka masih jauh, dia merasa bahwa jarak itu bisa dijangkau.
Isagi juga setuju, dan menyimpulkan bahwa kesadaran mereka tentang level permainan pro adalah makna dari pertandingan tersebut.
Isagi memandangi Rin yang sedang melepaskan tali sepatu di kasur di depannya. Dalam hati, Isagi merasa bahwa hanya Rin yang berjuang untuk mengalahkan 5 pemain top dunia hingga akhir. Isagi, Bachira, Aryu, dan Tokimitsu semua telah dibuat tak berdaya, dan harus menerima kenyataan pahit dari kekalahan itu.
Isagi menyadari bahwa Rin hebat karena dia merasa murka setelah kalah, sementara Isagi sendiri justru mengagumi para pemain top dunia. Bagi Rin, pemain-pemain itu bukanlah sosok yang dikagumi, melainkan lawan yang setara untuk dikalahkan.
Isagi pun yakin bahwa mentalitas seperti Rin itulah yang mampu bersaing untuk menjadi striker terbaik di dunia. Isagi bertekad untuk terus berada di dekat Rin, melampauinya, dan menjadi nomor satu di dunia.
5. Belajar Bahasa Inggris

Seleksi ketiga Blue Lock tahap 2 adalah pelajaran beberapa bahasa asing. Bachira hanya bisa mengucapkan “Sunday,” sementara pengucapan hari lainnya dalam bahasa Inggris salah, membuat Rin kesal harus membantunya memperbaiki.
Tokimitsu bertanya kepada Rin apakah perkenalan bisa menggunakan “I’m” sebagai pengganti “my name is,” sementara Aryu bertanya apakah harus menggigit lidah untuk melafalkan huruf “th.” Rin, frustasi, menegaskan bahwa dia bukan guru privat mereka.
Emosinya meledak saat Bachira melempar pesawat kertas yang mengenai kepalanya. Rin dengan marah mengeluh tentang betapa menyebalkan hari itu. Tokimitsu berusaha menahan Rin yang hampir menyerang Bachira, sementara Bachira meminta maaf.
Anri kemudian mengumumkan bahwa tahap 2 telah selesai, dan selanjutnya adalah tahap 3. Ia menyuruh para peserta mengenakan seragam dan segera menuju aula.
Anri juga mengumumkan bahwa 35 pemain dari 7 tim berhasil lolos seleksi ketiga Blue Lock dan memasuki ruangan sesuai urutan mereka.
6. Tim Kedua

Anri mempersilakan tim pertama yang berhasil lolos untuk memasuki aula, yaitu Isagi, Rin, Tokimitsu, Bachira, dan Aryu. Kemudian, tim kedua adalah Nagi, Barou, Chigiri, Zantetsu, dan Kiyora.
Bachira langsung menghampiri Zantetsu. Nagi memprotes Isagi yang tampak lega dan menanyakan apakah Isagi meragukan mereka akan lolos? Barou menarik kerah baju belakang Isagi, menanyakan apakah Isagi meremehkan mereka dan menyuruhnya tidak besar kepala.
Chigiri menduga Isagi sudah menganggap mereka sebagai figuran sungguhan. Isagi menjelaskan bahwa dia senang bisa bertemu Chigiri, Nagi, dan Barou lagi.
Nagi menegaskan bahwa dia tidak boleh menyerah setelah dikalahkan Isagi, sementara Chigiri menyebut mereka sedang mengadakan reuni.
7. 5 Tim Lainnya

Tim ketiga terdiri dari Otoya Eita, Himizu Aiki, Yukimiya Kenyu, Yuzu Harohiku, dan Karasu Tabito. Tim keempat adalah Endoji Akira, Tsunzaki Taiga, Haiji Shizuka, Hiragi Reji, dan Nanase Nijiro.
Tim kelima adalah Niko, Ishikari Yukio, Hiori, dan Saramadara Kairu. Isagi mengaku sudah menduga Niko akan lolos dan menantangnya bertanding lagi, namun Niko mengingatkan bahwa dia akan menghancurkan Isagi.
Chigiri merasa tim kelima kekurangan satu orang, dan Anri menjelaskan bahwa Nishioka mengalami cedera pada seleksi ketiga tahap pertama dan sedang menjalani perawatan.
Tim keenam terdiri dari Gagamaru, Raichi, Junichi, Tanaka Shingen, dan Shiguma Kyohei. Gagamaru, Raichi, dan Junichi muncul mencolok karena mereka bertiga tersungkur akibat berebut ingin tampil di tengah.
Raichi dan Junichi meminta Gagamaru yang menindih tubuh mereka untuk segera menyingkir. Chigiri terkejut Junichi bisa berbicara, dan Junichi mengingatkan Chigiri bahwa mereka akan bertanding lagi. Chigiri hanya menghela napas.
Isagi menunggu satu tim terakhir. Nagi menyebutkan bahwa Kunigami dan Reo belum tiba. Dalam hati, Isagi yakin bahwa Reo dan Kunigami pasti akan datang, karena mereka berdua tidak pantas tersingkir.
Tim ketujuh terdiri dari Igaguri, Sokura Tetsu, Kurona Ranze, dan Reo. Nagi merasa lega melihat Reo, sementara Isagi dan Chigiri merasa gugup menantikan satu sosok terakhir dari tim 7.
Shidou Ryusei muncul dan berkata, “Sudah semua,” membuat Isagi dan Chigiri terkejut. Anri kemudian menutup narasi dengan menyatakan bahwa semua peserta yang lolos seleksi ketiga Blue Lock telah berkumpul.
8. Shidou Singkirkan Kunigami

Isagi bertanya kepada Reo, mengapa dia tidak datang bersama Kunigami. Reo menjelaskan bahwa mereka kalah, dan Reo yang terpilih.
Reo menambahkan bahwa Kunigami bukan tipe orang yang bisa menjadi striker terbaik dunia sesederhana itu. Isagi menyebut Reo berbohong, karena ia merasa tak percaya karir Kunigami berakhir di tempat seperti ini.
Shidou mendekati Isagi, memberitahu bahwa dia telah menendang Kunigami ke “neraka” dengan cantik. Shidou mengakui bahwa Kunigami memiliki fisik yang cukup bagus, jujur, baik hati, dan polos, tapi sifat-sifat itu tidak diperlukan di lapangan.
Shidou menyimpulkan bahwa orang yang hanya mengandalkan daya ledak sesaat hanyalah sampah. Bagi Shidou, superhero yang polos dan naif seperti Kunigami hanyalah “slime” yang tidak akan pernah berkembang dalam hidupnya.
Isagi membentak, “Memang kau tahu apa tentang Kunigami?” Shidou tak peduli dengan perjalanan mereka, lalu melompat ke udara melakukan tendangan memutar yang hampir mengenai kepala Isagi. Namun, Chigiri bergerak cepat, menarik tubuh Isagi ke bawah untuk menghindari tendangan Shidou.
Bachira menghampiri Shidou dan mengaku siap meladeninya berkelahi. Bagi Bachira, Shidou seperti “slime” dan ia bahkan mengumpat Shidou dengan menyebutnya “kecoak berkumis gosong.” Shidou membela diri, menegaskan bahwa rambutnya bukan gosong, melainkan warna gandum yang sehat.
9. Blue Lock vs Timnas U-20 Jepang

Dari layar videotron di aula, Ego muncul dan meminta para peserta untuk tidak berkelahi, karena mereka tidak punya waktu untuk mencemaskan peserta yang telah tersingkir. Ego menjelaskan bahwa karir sepak bola mereka bisa bernasib sama seperti Blue Lock—menjadi sampah dan menghilang tanpa jejak.
Ego meyakini bahwa pertandingan melawan 5 striker top dunia adalah pengalaman berharga bagi semua peserta Blue Lock. Ia berjanji akan menjelaskan maknanya di lain waktu, karena ada perubahan rencana mendadak.
Ego mengungkapkan bahwa ia telah menantang elit JFU, dan dalam 3 minggu ke depan akan ada pertarungan hidup dan mati bagi Blue Lock. Pertandingan itu akan mempertemukan Timnas U-20 Jepang melawan kesebelasan Blue Lock.
Ego menjelaskan kepada semua peserta bahwa jika mereka bisa mengalahkan Timnas U-20 Jepang, mereka akan merebut posisi sebagai pemain Timnas U-20 Jepang. Ia juga mengingatkan bahwa para peserta Blue Lock hanyalah anak-anak SMA, dan semuanya adalah striker.
Elit JFU, yang menerima tantangan ini, menertawakan Blue Lock. Tujuan utama mereka adalah menghancurkan Blue Lock, sekaligus meraup keuntungan dari pertandingan besar yang akan menghebohkan negeri Jepang.
Ego memperingatkan bahwa jika Blue Lock kalah, mereka akan menjadi bahan tertawaan dan tercatat dalam sejarah sepakbola Jepang sebagai contoh tragis dari kegagalan pembinaan. Ia menanyai perasaan para peserta setelah mendengar kabar ini: apakah mereka akan menerima diremehkan, atau ingin menunjukkan kemampuan mereka dan membuat elit JFU tercengang?
Setelah menganalisis situasi dengan tenang, Ego yakin bahwa para peserta Blue Lock memiliki potensi untuk merevolusi sepakbola Jepang. Namun, Ego juga menyebut bahwa untuk menjamin kemenangan, JFU telah membuat berbagai persiapan.
Selain mengerahkan pemain U-20, mereka juga menyertakan seorang superstar Jepang, Itoshi Sae, yang untuk pertama kalinya bergabung dengan timnas Jepang. Rin terkejut mendengar kabar ini, teringat akan masa lalunya yang kelam, hingga giginya bergetar.
Ego kemudian menyatakan bahwa bagi 35 peserta Blue Lock, waktunya telah tiba untuk mempertaruhkan segalanya. Mereka sudah bisa egois, tetapi juga memadukan kemampuan dan keselarasan setelah melawan 5 striker top dunia.
Merebut tahta Timnas U-20 Jepang bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang bisa diraih. Ego mengingatkan bahwa yang akan mengubah dunia sepakbola adalah Blue Lock.
10. Isagi Pahami Arti Striker

Isagi teringat masa lalu ketika ia berpikir bahwa sepak bola adalah olahraga di mana 11 orang bertarung bersama-sama. Namun, kini ia menyadari bahwa pencetak gol adalah yang terhebat dalam sepak bola—sepak bola ada untuk para striker.
Bagi seorang striker, kebahagiaan sejati adalah mencetak gol untuk diri sendiri; mereka hidup hanya untuk momen itu. Isagi tidak bertarung demi persahabatan, apalagi demi impian orang lain. Ia adalah Isagi, dengan mimpi dan perjuangannya sendiri.
Isagi merasa senang menghadapi lawan di lapangan, dan karena itu, Isagi akan terus maju, bahkan jika harus menginjak “mayat” teman-temannya. Dulu, dia hanyalah pemain yang tidak dikenal siapa pun, tetapi jika Blue Lock menang melawan Timnas U-20 Jepang, Isagi akan menjadi pemain timnas Jepang.
Isagi siap mengubah hidupnya dengan tangannya sendiri, berada di Blue Lock untuk menang, dan tidak akan membiarkan Blue Lock musnah. Ia bertekad untuk mencetak gol, mengubah dunia, dan menjadi striker terbaik di dunia.




















