7. Giyuu Bersimpati

Giyuu merasa geram melihat tindakan Tanjiro. Ia berteriak, meminta Tanjiro berhenti memohon di depan musuhnya dan berhenti bersikap menyedihkan. Menurut Giyuu, jika belas kasih benar-benar berhasil, keluarganya pasti masih hidup.

Giyuu menegaskan bahwa dalam situasi di mana hanya ada pilihan antara “menghabisi atau dihabisi,” orang yang lemah dan hanya bisa memohon tidak akan bisa menyembuhkan adiknya atau membalas dendam. Ia mendesak Tanjiro untuk berjuang dan berhenti bergantung pada belas kasihan.

Giyuu menjelaskan bahwa orang lemah, yang tidak memiliki kekuatan atau pilihan, akan selalu dihancurkan oleh mereka yang kuat. Ia juga menekankan bahwa meskipun oni mungkin memiliki cara untuk menyembuhkan Nezuko, mereka tidak akan mendengarkan permohonan belas kasih Tanjiro.

Oleh sebab itu, Giyuu juga menolak permohonan Tanjiro. Ia mempertanyakan mengapa Tanjiro ingin Nezuko tetap hidup jika Tanjiro sendiri tidak mampu melindunginya. Bahkan, Giyuu mengaku tidak akan ragu untuk menghabisi Nezuko dan Tanjiro sekaligus.

Sembari mengacungkan pedang ke arah Tanjiro yang menangis di seberang, dalam hatinya Giyuu berharap Tanjiro berhenti menangis dan tidak menyerah. Menurutnya, tidak ada hal baik yang datang dari keputusasaan.

Giyuu memahami rasa sakit Tanjiro yang kehilangan keluarganya, ditambah adiknya yang berubah menjadi oni—itu semua pasti sangat sulit. Ia bahkan sempat berandai-andai, jika saja ia tiba setengah hari lebih cepat, mungkin keluarga Tanjiro masih bisa diselamatkan. Namun, Giyuu sadar bahwa waktu tidak bisa diulang.

Dalam hati, Giyuu berharap kemarahan bisa menjadi kekuatan besar bagi Tanjiro untuk menggerakkan tubuhnya. Ia tahu bahwa dengan tekad yang lemah, Tanjiro tidak akan mampu melindungi Nezuko, menyembuhkannya, ataupun membalas dendam atas kematian keluarganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here