5. Tanjiro Basmi Oni

Saat ujian akhir dimulai, Tanjiro bertekad untuk bertahan hidup selama tujuh hari. Ia memutuskan untuk berlari ke sisi timur, tempat yang paling cepat terkena sinar matahari, karena saat pagi tiba, oni tidak akan bisa keluar, dan ia bisa beristirahat.
Ketika sedang berlari, Tanjiro tiba-tiba mencium aroma keberadaan oni. Ia segera bersiap bertarung dengan menggenggam erat katananya.
Tiba-tiba, oni pertama jatuh dari atas, namun Tanjiro berhasil menghindarinya. Kemudian, oni kedua muncul dari belakang, tetapi Tanjiro berhasil menangkis serangan oni kedua dengan katananya.
Oni pertama dan oni kedua mulai bertengkar, saling berebut dengan mengatakan bahwa Tanjiro adalah mangsa mereka. Akhirnya, mereka sepakat bahwa siapa pun yang lebih cepat memangsa Tanjiro akan menjadi pemenangnya.
Keduanya pun menyerang Tanjiro secara bersamaan, tetapi Tanjiro mampu menangkis serangan oni pertama dan oni kedua secara bergantian. Meski begitu, oni kedua berhasil menendang Tanjiro hingga ia terhuyung mundur.
Melihat kedua oni itu bersiap menyerangnya lagi secara bersamaan, Tanjiro menggunakan teknik pernapasan Mizu no Kokyuu.
Dengan teknik ini, ia dapat mencium aroma benang dan melihat tali benang yang menegang, terentang dari katananya menuju titik lemah oni pertama dan oni kedua.
Tanjiro segera mengayunkan katananya mengikuti tali benang, menggunakan teknik pedang Shi no Kata: Uchishio. Teknik tersebut berhasil membelah dan menghanguskan oni pertama dan oni kedua sekaligus.
Tanjiro kagum pada dirinya sendiri karena berhasil mengalahkan oni dan menyadari bahwa dirinya telah bertambah kuat. Ia bersyukur bahwa latihan kerasnya tidak sia-sia.
Ia juga menyadari bahwa berkat katana yang diberikan oleh Urokodaki, ia mampu membasmi oni hingga tulangnya tak tersisa.
Tanjiro kemudian teringat saat berlatih bersama Urokodaki, di mana ia diajarkan bahwa kelemahan utama oni terletak di leher mereka. Namun, Urokodaki juga memperingatkan bahwa oni tidak dapat dihabisi dengan katana biasa.
Karena itu, para pemburu iblis menggunakan katana yang terbuat dari logam khusus yang mampu membasmi oni sepenuhnya.
Demi persiapan ujian akhir, Urokodaki telah memberikan Tanjiro sebuah katana nichirin, senjata yang dirancang khusus untuk tugas tersebut.
6. Oni Besar

Setelah mendoakan agar kedua oni yang telah ia basmi dapat beristirahat dengan tenang, Tanjiro tiba-tiba mencium aroma yang sangat busuk.
Ia segera menyadari bahwa aroma itu berasal dari oni besar bertubuh gendut dengan banyak tangan, yang sedang mengejar Mamat.
Tanjiro gemetar melihat oni besar tersebut, terlebih setelah ia melihat bahwa oni itu baru saja memangsa Ujang.
Setelah memakan Ujang, oni besar tampak mendapatkan kekuatan tambahan. Oni itu kemudian memanjangkan lengannya dan berhasil menangkap kaki Mamat yang tengah berusaha melarikan diri.
Meskipun tubuhnya gemetar, Tanjiro menguatkan tekadnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi lemah dan ingin menolong Mamat, yang hampir dimangsa oleh oni besar.
Dengan penuh keberanian, Tanjiro melompat ke udara dan menggunakan teknik pernapasan Mizu no Kokyuu, lalu mengayunkan teknik pedang Ni no Kata: Mizu Guruma. Serangannya berhasil memenggal tangan oni besar dan menyelamatkan Mamat dari bahaya.
Saat melihat Tanjiro, oni besar memperhatikan topeng rubah yang terikat di samping kepalanya. Oni itu berkata dengan nada mengejek, “Oh, datang lagi rubahku yang manis.” Oni besar kemudian menanyakan kepada Tanjiro, “Sekarang ini era Meiji keberapa?” Tanjiro, dengan kebingungan, menjawab, “Sekarang era Taisho.”
Mendengar jawaban tersebut, oni besar langsung mengamuk. Ia mencakar-cakar tubuhnya sendiri, terlihat sangat frustrasi setelah menyadari bahwa ia telah terjebak begitu lama di Gunung Fujikasane. Dengan penuh kemarahan, ia mengumpat, “Teknik Urokodaki sialan!”
Tanjiro, yang penasaran, bertanya kepada oni besar, “Mengapa kau tahu tentang Urokodaki?” Oni besar kemudian menjelaskan bahwa Urokodaki adalah orang yang menangkap dan mengurungnya di Gunung Fujikasane.
Ia menambahkan bahwa itu terjadi 47 tahun yang lalu, saat Urokodaki masih menjadi pemburu iblis di zaman Edo, tepatnya pada era Keio.
















