7. Target Keempat Belas

Mamat merasa mustahil bahwa oni besar telah hidup selama itu. Setahu Mamat, oni yang hidup di Gunung Fujikasane hanya mampu memakan dua atau tiga manusia.
Namun, oni besar mengungkapkan bahwa ia tidak berbohong. Selama berada dalam kurungan di Fuji, ia telah memakan 50 manusia.
Sembari tertawa, oni besar memberitahu Tanjiro bahwa ia sudah memangsa 13 murid Urokodaki, dan Tanjiro akan menjadi target ke-14.
Oni besar bertekad untuk memangsa semua murid Urokodaki dan mengingat dengan jelas bahwa Sabito adalah murid yang terkuat, sementara Makomo, meskipun kecil, sangat lincah.
Tanjiro terkejut mendengar pengakuan tersebut, menyadari bahwa dua orang yang melatihnya ternyata sudah tiada.
Di alam lain, Makomo duduk di atas batu besar sambil menanyai Sabito, “Apakah Tanjiro bisa mengalahkan oni besar?” Sabito menjawab dengan nada ragu, “Aku tidak tahu. Kau juga tahu, Makomo, bahwa usaha keras saja tidak selalu cukup untuk mengalahkan oni besar.”
Oni besar kemudian menunjuk topeng rubah yang terikat di samping kepala Tanjiro. Ia mengaku bisa mengingat semua topeng rubah yang diukir oleh Urokodaki, karena mirip dengan ukiran topeng tengu yang sering dipakai oleh Urokodaki sendiri.
Oni besar bertanya kepada Tanjiro, “Apakah Urokodaki menyebut topeng itu sebagai penangkal? Padahal, setiap murid yang memakai topeng rubah itu akhirnya masuk ke dalam perutku.”
Sambil tertawa sinis, oni besar menyimpulkan, “Ini sama saja seperti Urokodaki sengaja mengirim pasokan makanan langsung ke mulutku.”
8. Takeo

Tanjiro merasa geram mendengar oni besar tertawa sembari menceritakan proses kematian Sabito dan Makomo. Dengan penuh amarah, Tanjiro berlari maju untuk menyerang, menebas setiap tangan yang dilayangkan oni besar ke arahnya.
Di alam lain, Sabito menyaksikan bahwa pernapasan Tanjiro tidak teratur, lalu bergumam bahwa seharusnya Tanjiro tidak memikirkan mereka saat bertarung.
Ketika Tanjiro melompat untuk menebas wajah oni besar, oni besar melayangkan tinju dari samping, tepat mengenai pinggang Tanjiro.
Pukulan itu membuat tubuh Tanjiro terlempar menghantam pohon, hingga ia jatuh terbaring tak sadarkan diri di tanah. Topeng rubahnya pun hancur akibat benturan tersebut.
Saat oni besar mulai berjalan mendekati Tanjiro yang terbaring pingsan, Mamat, yang sebelumnya berada di dekatnya, memilih kabur untuk menyelamatkan diri.
Oni besar tersenyum sinis, membayangkan dirinya akan memangsa murid Urokodaki lagi. Ia bertanya-tanya seperti apa raut wajah Urokodaki ketika mengetahui bahwa semua muridnya tidak pernah kembali.
Tepat ketika oni besar hendak melayangkan tinju ke arah Tanjiro yang masih terbaring pingsan, Tanjiro bermimpi tentang Takeo yang membangunkannya.
Dengan dorongan dari mimpi itu, Tanjiro mendadak terbangun tepat waktu dan berhasil menghindari serangan tinju oni besar.
















