3. Prinsip Barou Shouei

Isagi menghampiri Barou dan memberi tahu bahwa jika Barou terus egois, Isagi tidak bisa melihat peluang gol dari Barou. Menurut Isagi, permainan Barou seharusnya memberi kesempatan bagi Nagi dan Isagi untuk mencetak gol, sehingga mereka bisa saling memanfaatkan.

Dengan emosi, Barou menegaskan bahwa ia hanya ingin menang melalui golnya sendiri. “Aku lebih baik mati daripada bermain untuk orang lain,” kata Barou.

Isagi mencoba menjelaskan bahwa jika Barou mengoper, akan tercipta lebih banyak variasi serangan, yang mungkin saja membuat Barou mencetak lebih banyak gol. Namun, Barou merasa kata “mungkin” tidak cukup. Ia ingin menang dengan caranya sendiri, dan menolak saran Isagi.

Isagi menilai bahwa mereka akan kalah jika Barou tetap berpikir begitu. Namun, Barou dengan tegas mengatakan bahwa ia lebih baik kalah daripada mengubah prinsipnya.

Isagi membentak Barou, menyatakan bahwa cara berpikirnya bisa merusak potensinya sendiri. Isagi mengakui bahwa ia ingin berada satu tim dengan Barou, karena percaya Barou bisa menjadi lebih hebat bersamanya.

Namun, jika Barou terus bersikap keras kepala, Isagi yakin Barou akan tersingkir dari Blue Lock. Barou, merasa tersinggung, meminta Isagi untuk tidak asal bicara. Ia juga mulai merasa jengkel mengapa dirinya, yang memiliki kemampuan hebat, sekarang justru kesulitan untuk menang.

Bagi Barou, kerja sama tim adalah permainan yang diinginkan oleh Isagi, yang membuatnya merasa mual. Ucapan Isagi seolah-olah memaksa Barou menjadi boneka yang dimainkan olehnya.

Saat melangkah pergi, Barou menegaskan bahwa mereka berdua sama-sama egois, hanya melakukan hal yang menurut mereka benar. Ia juga memperingatkan Isagi untuk tidak berharap bisa mengendalikannya.

Nagi kemudian meminta Isagi untuk tidak terpaku pada Barou, dan mengajaknya memenangkan pertandingan hanya berdua.

Dalam hati, Isagi bertanya-tanya mengapa ia begitu terobsesi pada Barou. Apakah demi memenangkan pertandingan atau karena ia merasa Barou menyia-nyiakan bakatnya? Isagi bingung bagaimana membangun chemistry permainan dengan Barou.

4. Reo Mikage

Reo menggiring bola dan dihadang oleh Isagi. Reo bertanya, “Mengapa Nagi lebih memilihmu dibanding aku?” Isagi menjawab, “Aku tidak tahu, apa kamu ingin bilang kemampuanmu lebih hebat dariku?”

Reo mengakui bahwa dia tidak memiliki kemampuan spesial seperti Isagi, Chigiri, atau Kunigami. Oleh karena itu, satu-satunya yang ada di pikirannya dalam pertandingan ini hanyalah menang.

Reo bergerak cepat dan berhasil lolos dari hadangan Isagi, membuat Isagi takjub dengan kecepatannya. Meskipun Reo tidak memiliki fisik sekuat Kunigami atau secepat Chigiri, Isagi sadar bahwa menghentikan Reo tidak bisa dilakukan dengan cara biasa.

Sementara Reo berlari menggiring bola dengan tekad untuk membantah keberadaan Isagi, Kunigami mengiringinya di sisi kiri, dan Chigiri di sisi kanan, melakukan serangan balik.

Isagi mengejar dari belakang Reo, sementara Nagi bersiap menjadi bek yang akan menghadang Reo sambil mengawasi Chigiri, dan Barou mengawal Kunigami.

Tim Red melakukan skema one-two. Reo mengoper bola ke Kunigami, namun saat Kunigami dihadang Barou, ia segera mengembalikan bola ke Reo. Saat Reo dikejar oleh Barou dan Isagi, ia kembali mengoper ke Kunigami yang berada di posisi bebas.

Isagi pun tersadar bahwa Reo adalah pusat dari Tim Red, memanfaatkan kecepatan Chigiri di sisi kanan dan kekuatan Kunigami di sisi kiri. Reo bertindak sebagai pemain utilitas yang menyeimbangkan serangan dan pertahanan.

Isagi menyimpulkan bahwa Reo adalah pemain istimewa dengan kombinasi kekuatan, strategi, kecepatan, fisik, dan kemampuan yang luar biasa.

Ketika Reo yang dikawal oleh Isagi mengoper ke Chigiri di sayap kiri, Nagi dengan percaya diri menyatakan bahwa ia siap menghentikan Chigiri.

Namun, Chigiri membalas dengan mengatakan agar Nagi tidak menyamakannya dengan “raja egois” seperti Barou. Dengan cermat, Chigiri kemudian mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti Tim White, seolah-olah ditujukan kepada Reo yang berada di tengah.

Saat Isagi berusaha mendahului Reo untuk mengambil umpan, Kunigami yang lepas dari kawalan Barou tiba-tiba muncul dan membenturkan tubuhnya pada Isagi, membuat keseimbangan Isagi goyah.

Kunigami kemudian melompat dan menyundul bola, berhasil membobol gawang Tim White. Skor pun berubah menjadi 3-1, Tim Red semakin unggul atas Tim White.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here