10 Ulasan Nonton Blue Lock Episode 18 Season 1

1. Masa Kecil Barou Shouei

Barou heran mengapa dirinya kesulitan mencetak gol dan kini malah berlutut di lapangan, padahal ia seharusnya menjadi raja di lapangan. Ia teringat masa kecilnya, di mana sejak bocah, dirinya selalu menjadi tokoh utama dan yang terhebat di lapangan.

Rekan-rekannya memuji Barou, menyebutnya hebat, yang membuatnya semakin yakin bahwa ia memang berbakat. Mereka senang berada satu tim dengan Barou, memperkuat keyakinan Barou bahwa pemain selain dirinya hanyalah pemeran pendukung.

Barou selalu memerintahkan rekan-rekannya untuk bergerak agar ia bisa mencetak gol, dan mereka menerimanya dengan senang hati, merasa kehadiran Barou membuat tim mereka tak terkalahkan.

Di lubuk hatinya, Barou bingung mengapa orang bisa menikmati bermain sepak bola meski hanya menjadi pemeran pendukung. Akhirnya, ia pun menganggap dirinya sebagai raja di lapangan.

Saat tumbuh menjadi remaja, Barou berhenti mencoba memahami orang lain dan mulai mengejar gaya sepak bolanya sendiri. Ia bermain bukan untuk menikmati status sebagai raja, dan bukan pula karena kecintaannya pada menendang bola.

Tujuan Barou hanya satu: menumbangkan lawan yang berusaha merebut peran utamanya di panggung sepak bola, lalu menghancurkan mereka dengan sorotan cahaya dari gol kemenangannya.

Barou bermain sepak bola untuk menikmati kehancuran lawan yang mendedikasikan hidupnya pada permainan ini. Alhasil, Barou merasakan sukacita yang tak tertandingi sebagai sosok yang terhebat.

2. Barou Oper Isagi

Barou memulai permainan Tim White dengan melepaskan tendangan langsung dari tengah lapangan, namun tendangannya membentur tiang gawang.

Kunigami segera bergegas untuk merebut bola rebound dan melancarkan serangan balik, tetapi Nagi dengan cepat bergerak untuk menghadang Kunigami. Kunigami kemudian mengoper bola ke Reo yang mendekat, namun Isagi sudah bersiap untuk memotong operan tersebut.

Menyadari bahwa Isagi telah membaca pergerakannya, Reo langsung melancarkan tekel untuk merebut bola dari Isagi. Bola rebound kemudian mengarah ke Barou.

Barou merasa mendapat kesempatan untuk menjadi tokoh utama. Ia melihat zona tembaknya terbuka lebar dan hanya perlu menggiring bola beberapa meter sebelum bisa menendangnya ke arah gawang.

Namun, Chigiri berlari membuntutinya, siap untuk menghentikan Barou, dan Barou pun sadar bahwa bolanya terancam direbut.

Barou melihat Isagi berlari bebas di depan gawang, menatap tajam, dan meminta operan. Terintimidasi oleh pandangan Isagi, Barou akhirnya mengirim operan kepada Isagi. Tim Red, termasuk Nagi, tidak menyangka Barou akan mengoper.

Isagi berlari mengejar umpan tersebut, sementara Reo membuntuti di belakangnya. Dengan tenang, Isagi berhasil melepaskan sebuah direct shoot yang sukses membobol gawang tim Red. Skor pun berubah menjadi 4-4, Tim White berhasil menyamakan kedudukan.

Isagi mendekati Barou yang tersungkur dan berkata, “Operan bagus, payah.” Ia lalu menambahkan bahwa Barou harus bergerak agar dirinya bisa mencetak gol. Barou syok mendengar perkataan itu, dan rasa putus asa semakin mencengkeram hatinya.

Sebagai seseorang yang selalu menjadi pemain terhebat di lapangan, kini Barou mencoba segala cara untuk membuktikan kehebatannya. Namun, lawan dengan mudah menghentikannya, membuat Barou merasa dirinya menjadi beban yang tak berguna bagi timnya.

Untuk pertama kalinya, Barou merasakan pahitnya dikalahkan oleh orang lain dalam sebuah tim. Ia tidak berniat mengoper bola kepada Isagi, tetapi terpaksa melakukannya.

Barou mulai menyadari bahwa Isagi adalah tokoh utama di lapangan, dan sepak bola tak lagi melayaninya seperti dulu. Perlahan, Barou merasa dirinya bukan lagi raja di lapangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here