8 Ulasan Nonton Blue Lock Episode 17 Season 1
1. Zona Tembak Kunigami

Isagi tak sabar menguji dirinya yang baru serta mengukur seberapa baik chemistry timnya. Ia berencana menggabungkan keahlian pergerakan tanpa bola dengan kemampuan menyusup di titik buta lawan, ditambah dengan senjata utamanya, yaitu spatial awareness.
Isagi mulai menganalisis situasi keseluruhan lapangan, mengamati pandangan musuh serta rekan-rekannya. Dengan begitu, ia dapat melihat pergerakan setiap pemain lebih tepat dan jelas dari sebelumnya.
Dalam pikirannya, berbagai gambaran dan kemungkinan rute menuju gol terus bermunculan.
Isagi mengoper bola ke Barou, yang langsung menggiring bola. Kunigami mengejar Barou dengan ketat. Isagi tahu Reo akan memutar tubuh dan bergerak menghadapnya, sesuai prediksi.
Oleh karena itu, Isagi berlari ke arah yang berlawanan, menyusup ke titik buta Reo dan berhasil lolos dari penjagaannya.
Setelah bebas, Isagi yang kini berada di depan gawang mulai merasakan peluang besar untuk mencetak gol. Isagi menatap Barou yang berada di sisi kanan lapangan, berharap Barou mengirim operan kepadanya yang sudah berada di tengah dan di depan gawang.
Namun, Barou justru mengabaikan Isagi. Akibatnya, Kunigami berhasil merebut bola dari Barou yang egois, membuat Barou jatuh tersungkur.
Kunigami dengan cepat membawa bola, diikuti oleh Reo dan Chigiri yang siap melancarkan serangan balik. Isagi berlari mengikuti Reo, sementara Nagi berada di belakang Chigiri.
Namun, Isagi segera menyadari bahwa jika Kunigami dibiarkan berlari bebas, ia akan memasuki zona tembaknya.
Dan benar saja, Kunigami melancarkan tendangan jarak menengah yang sukses membobol gawang Tim White. Skor berubah menjadi 2-0, Tim Red unggul atas Tim White.
2. Isagi Berevolusi

Nagi menegur Barou agar berhenti keras kepala, lalu bertanya, “Kenapa kau tak mengoper saat Isagi berlari bebas?” Barou menjawab dengan tegas, “Untuk apa aku mengoper kalau orang lain yang akan mencetak gol?”
Nagi menyebut Barou bodoh, menekankan bahwa egois tak ada gunanya jika mereka kalah. Barou pun menegaskan bahwa Isagi dan Nagi harus melayaninya agar dia bisa mencetak gol.
Isagi mencoba menghentikan pertengkaran, bersedia menjadi pengumpan sementara. Namun, Barou meminta Isagi mengopernya, dan Nagi juga menginginkan hal yang sama. Isagi menyadari bahwa Barou dan Nagi tidak bisa berkoordinasi, sehingga ia berpikir untuk mengambil alih kendali tim.
Saat Isagi merenung, seolah-olah kepingan puzzle keluar dari kepalanya dan beterbangan mengelilinginya. Isagi pun bertekad untuk mengatur ulang chemistry tim antara dirinya, Nagi, dan Barou.
Isagi memperbarui penglihatan situasinya di lapangan untuk membimbing timnya mencetak gol. Berkat senjata spatial awareness-nya, Isagi mampu melihat simulasi dan memvisualisasikan peluang gol.
Ketika Isagi mempertimbangkan untuk mengoper ke Barou, semua rute menuju gol tampak tertutup, terlihat seolah-olah aura tumpukan tengkorak mengelilingi opsi itu.
Namun, saat Isagi mempertimbangkan mengoper ke Nagi, gambaran menjadi lebih potensial. Ia melihat banyak kemungkinan gol, dengan Nagi terlihat bisa mencetak gol dari berbagai posisi dan dengan berbagai cara.
Isagi merasa telah berevolusi ke level yang memungkinkan dirinya merasakan pergerakan tanpa bola, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk rekan setimnya.
Isagi pun memutuskan untuk mengirim umpan lambung ke arah Nagi, yang berada di luar kotak penalti tim Red. Dari sisi kanan, Chigiri berlari kencang untuk menghadapi Nagi, yang siap menerima bola di tengah lapangan, tepat di depan gawang.
Chigiri menantang Nagi, bertanya apakah ia siap untuk duel. Dengan tenang, Nagi menjawab bahwa secepat apa pun Chigiri berlari, manusia tidak bisa tiba-tiba bergerak mundur. Posisi Chigiri tepat di depan Nagi, dan atmosfer mulai terasa tegang.
Untuk menetralkan kecepatan Chigiri, Nagi melompat ke udara dan melakukan backheel trap, mengontrol bola dengan tumitnya dan membelokkannya ke arah yang berlawanan dari posisi Chigiri, menciptakan jalur tembakan. Chigiri, meskipun cepat, tertinggal di belakang, terkecoh oleh kecerdikan Nagi.
Setelah menciptakan ruang yang cukup, Nagi dengan tenang menendang bola dari luar kotak penalti dan gol! Skor berubah menjadi 2-1, Tim White berhasil memperkecil ketertinggalan dari Tim Red.
















