9. Doping Impian

Ego menjelaskan kepada Anri bahwa kekalahan adalah fenomena yang pasti terjadi dalam setiap kompetisi. Bahkan striker terbaik di dunia tidak mungkin selalu menang di setiap pertandingan. Yang paling penting adalah belajar dari kegagalan.
Ego menekankan bahwa kekalahan lebih buruk daripada sekadar rasa putus asa, karena bagi seorang pemain, itu berarti tersingkir dari lapangan.
Namun, banyak pemain yang tidak tahu cara menghadapi rasa putus asa dengan benar. Ketika disebut lemah atau kurang berbakat, mereka takut mengakui kesalahan dan tanpa sadar mencari alasan untuk menghindar dari kenyataan.
Pikiran bawah sadar mereka luar biasa hebat, hingga membuat mereka berkata, “Ini baru permulaan,” dan membenarkan bahwa tidak ada akhir dalam pertandingan.
Demi memastikan bahwa usaha mereka tidak sia-sia, mereka percaya bahwa terus berjuang adalah jawaban yang benar.
Ego menyebut ini sebagai “Doping Impian,” di mana para pemain terjebak dalam ilusi impian yang tidak pernah diwujudkan. Mereka terus membohongi diri sendiri dan orang lain.
Ego menyatakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada orang-orang sampah yang terus-menerus mengejar ilusi impiannya.
Menurut Ego, impian hanya memiliki arti jika diwujudkan, barulah impian itu bermakna. Jadi, kekalahan adalah titik penentu di persimpangan jalan impian.
Yang dibutuhkan saat kalah adalah kekuatan mental untuk mengakui ketidakberdayaan diri dan kemampuan untuk menghadapi keputusasaan.
Setiap orang memiliki jalan impiannya dalam hatinya, dan terkadang mereka harus melewati fase keputusasaan untuk mencapai pertumbuhan. Melalui proses itu, mereka dapat mengubahnya menjadi potensi baru dalam diri mereka.
Bagi mereka yang terus berjuang meski di tengah keputusasaan, mereka akan memiliki kekuatan untuk menggapai impiannya.
10. Kalah

Tim Red meratapi kekalahan mereka. Chigiri, dalam hatinya, berandai-andai bahwa jika ia bisa menerima operan dari Reo, ia pasti bisa mencetak gol dan membawa timnya menang.
Kunigami menyadari kelemahannya, merasa tak berdaya saat Tim White menunjukkan kekuatan mereka yang sesungguhnya.
Sementara itu, Reo hanya terdiam, gemetar akibat kekalahan yang baru saja mereka alami.
















