5. Pemeran Figuran

Isagi menyebut Barou payah dan mendesaknya untuk segera mengoper bola, sementara Isagi mulai berlari dari tengah lapangan menuju gawang lawan.
Barou, yang kini merasa dirinya hanya figuran, semakin menyadari bahwa lapangan ini seolah bersinar hanya untuk gol Isagi. Anehnya, Barou tidak merasa kesal, mungkin karena ia akhirnya menerima kenyataan bahwa dirinya bukan lagi tokoh utama.
Di sisi lain, Nagi juga meminta operan dari Barou, berlari cepat diikuti oleh Chigiri yang terus membuntutinya. Barou melihat Isagi dan Nagi bergerak untuk mencetak gol, seolah-olah setiap langkah mereka mengolok-olok dirinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Barou benar-benar merasa seperti seorang figuran, hanya bertugas mengoper bola kepada Isagi atau Nagi demi memastikan kemenangan tim.
Barou melihat cahaya Isagi dan Nagi yang begitu terang, sementara dirinya yang terjebak dalam rasa insecure seakan diselimuti kegelapan.
Barou terkejut saat menyadari bahwa perasaan ini mungkin sama dengan apa yang selama ini dirasakan oleh pemeran figuran yang selalu mengoper bola kepadanya. Ia merasakan ketakutan akan kekalahan, yang hanya bisa diatasi dengan mempercayakan gol pada striker yang lebih hebat.
Kini, Barou mengerti bahwa mempercayakan operannya kepada rekan setim demi kemenangan adalah bagian dari kerja sama dalam sebuah tim, serta betapa pentingnya menciptakan chemistry dalam permainan.
Barou akhirnya memahami peran seorang figuran yang kalah telak dari sang tokoh utama.
6. Masa Depan Suram

Ketika Barou hendak mengoper bola, tiba-tiba tubuhnya terasa seperti ditahan oleh kumpulan makhluk-makhluk menyeramkan dengan ekspresi tertekan.
Barou mendadak mengalami tekanan emosional, seolah melihat bayangan masa depan suram yang menantinya jika ia mengoper bola ke rekannya.
Barou tersadar bahwa mempercayakan gol kepada orang lain mungkin akan menyelamatkannya dari rasa kekalahan, tetapi ia tahu bahwa itu sebenarnya hanya cara untuk menyangkal diri sendiri, sebuah pelarian dari kenyataan.
Bagi seseorang yang mimpinya telah hancur, itu tidak lebih dari sekadar alasan seorang pecundang.
Dalam visinya, Barou melihat dirinya yang dewasa hidup dalam kehidupan yang suram, duduk di kasur sambil meminum bir, menonton televisi.
Di layar, Isagi mencetak gol untuk Timnas Jepang melawan Spanyol di ajang Piala Dunia, membawa timnya unggul 1-0. Barou yang menyaksikan pertandingan itu tampak kalah oleh nasibnya sendiri, hanya sebagai penonton tanpa daya.
















