5. Chigiri Takjub Pada Nagi

Chigiri bertanya kepada Nagi, yang sedang tiarap memandangi smartphone, tentang apa yang sedang ditonton. Nagi menjawab bahwa ia sedang menonton pertandingan bola dan ingin belajar meniru cara mengontrol bola seperti pemain hebat yang ia saksikan.
Chigiri memberitahu Nagi bahwa pemain tersebut adalah Noel Noa, striker terbaik dunia saat ini. Nagi terkesima, “Pantas saja dia begitu hebat.”
Chigiri tersenyum, tak menyangka bahwa Nagi benar-benar tidak tahu banyak tentang sepak bola, tapi tetap kagum dengan kemampuan Nagi yang luar biasa.
Nagi penasaran dengan cedera kaki Chigiri, yang tadi ia sebut sedang merawat kakinya. Chigiri memperlihatkan bekas operasinya dan menjelaskan bahwa kakinya seperti “bom waktu” sekaligus “partner”-nya.
Chigiri mengungkapkan bahwa jika cedera itu kambuh, kondisinya akan sangat berbahaya, tapi ia tidak menyesal. Setiap hari, ia berlari dengan tekad itu. Nagi terkesima dan menyebut Chigiri keren.
Setelah membuka pintu kamar tidur, Barou bergumam seharusnya Nagi dan Chigiri sudah selesai merapikan barang-barang yang berhamburan. Namun, Barou terkejut melihat kamar justru lebih berantakan daripada sebelumnya.
Chigiri melempar sepatu ke arah Nagi, dan Nagi berhasil mengontrol sepatu tersebut dengan senjata one-touch play-nya.
Chigiri memberi tahu Isagi dan Barou bahwa mereka sedang mempraktekkan video kontrol bola dengan Nagi. Barou kesal karena sepatunya digunakan, sementara Isagi hanya tersenyum melihat momen lucu ini.
6. Masa Kecil Bachira Meguru

Sejak masih bocah, Bachira sudah menyukai sepak bola. Baik saat tidur maupun bangun, dari pagi hingga malam, ia selalu membawa bola bersamanya.
Bachira sangat suka mendribel bola dan telah menjadi pemain freestyle football yang berbakat. Dribelnya yang luar biasa membuat teman-teman masa kecilnya kewalahan merebut bola darinya.
Bahkan, kemampuan Bachira yang hebat dan keahliannya dalam mencetak gol sulit untuk ditandingi.
Akibatnya, teman-teman masa kecil Bachira mulai enggan bermain bola dengannya dan lebih memilih bermain game. Bachira merasa heran dengan pilihan mereka. Ia menyarankan agar mereka mencoba menyatu dengan bola, karena dengan begitu mereka bisa melakukan hal-hal hebat.
Bagi Bachira, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan sepak bola. Namun, teman-temannya malah menyebut Bachira aneh dan mengajak anak-anak lainnya untuk pergi.
Bachira, yang kesal, mendorong teman yang menyebutnya aneh, dan akhirnya ia dikeroyok oleh semua temannya.
Setelah itu, ibunya merawat Bachira yang terluka. Sambil menempelkan plester ke hidungnya, ibunya menegaskan bahwa Bachira tidak aneh. Ibunya menjelaskan bahwa teman-temannya tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Bachira.
Bachira mengungkapkan bahwa bermain bola jauh lebih seru daripada bermain game. Ibunya menyebut Bachira anak yang baik, dan mengatakan bahwa memiliki sesuatu yang dipercayai adalah hal luar biasa. Ia menyuruh Bachira untuk hidup dengan keyakinan itu.
Ibunya menambahkan, ketika dewasa, banyak orang tidak berani mempercayai apa yang mereka inginkan, sehingga mereka berpura-pura tidak mendengar suara hati, dan akhirnya suara itu menghilang.
Ibunya menekankan bahwa apa yang Bachira percayai sangatlah penting. Menurutnya, suara itu berasal dari “monster” yang ada dalam diri seseorang. Bahkan, ibunya yang bekerja sebagai pelukis juga mempercayai suara tersebut.
















