7. Bachira Meguru & Monster

Meskipun tidak memiliki teman untuk bermain bola, Bachira tidak putus asa. Ia bermain sendirian di lapangan dan menciptakan teman khayalan yang ia sebut “monster.” Bersama monster tersebut, Bachira terus bermain sepak bola dengan penuh semangat.
Hasilnya, Bachira tumbuh menjadi seorang pesepakbola yang sering memberikan operan kepada monster itu, karena ia begitu terkesan melihat kemampuan monster tersebut dalam menerima umpan dan mencetak gol.
Saat bermain sepak bola di sekolah dasar, Bachira menggiring bola, sementara rekannya meminta operan. Namun, Bachira lebih memilih mengoper kepada “monster khayalannya,” yang menurutnya berada di posisi lebih baik dan mampu mencetak gol dengan teknik hebat.
Hal ini membuat rekan timnya kesulitan, karena operan Bachira terlalu tinggi dan sulit dijangkau. Pelatih pun meneriaki Bachira agar mengirim operan lebih rendah, tepat ke kaki.
Di rumah, ketika ibunya sedang melukis, Bachira sambil juggling bola menceritakan tentang monster tersebut kepada ibunya. Dengan bijak, ibunya menjelaskan bahwa sosok itu hanyalah teman khayalan yang hanya bisa dilihat oleh Bachira.
Namun, ibunya tidak menyebut Bachira aneh, karena ia tahu bahwa monster itu memainkan sepak bola sesuai keinginan Bachira dan membuatnya bahagia.
Meskipun demikian, Bachira tidak menyangkal hasratnya untuk memiliki teman sungguhan yang dapat bermain sepak bola dengan gembira bersamanya.
Bachira berbagi keinginannya kepada ibunya, dan ibu Bachira ikut mendoakan agar anaknya dapat menemukan teman yang diidamkannya. Bachira sepenuhnya mempercayai bahwa suatu saat ia akan menemukan sosok teman yang ia nantikan.
8. Bachira Merasa Hampa

Ketika Bachira beranjak remaja dan bermain sepak bola bersama tim sekolahnya. Rekan-rekannya meminta operan darinya, namun Bachira, dalam khayalannya, melihat posisi “monster” imajinernya lebih baik daripada rekan-rekannya.
Akibatnya, Bachira terlalu lama mengontrol bola, yang kemudian direbut oleh lawan. Hal ini membuat rekan-rekannya kesal dan menuduh Bachira bermain egois.
Suatu waktu, Bachira merasakan ketakutan yang kadang-kadang menghantuinya. Ia bermain bola di bawah kolong jembatan saat senja, menendang bola ke arah pilar beton, menunggu bola memantul dan terus menendangnya berulang kali.
Sambil bermain, ia merenungkan komentar orang-orang yang percaya bahwa Bachira memiliki potensi besar untuk menjadi pemain sepak bola profesional, asalkan ia menghentikan kebiasaannya memberikan operan bola yang tidak jelas arahnya dan lebih memperhatikan rekan timnya saat bermain.
Ketika kelelahan, Bachira duduk bersandar di pilar beton dan mulai merenung, bertanya-tanya apakah dirinya memang aneh. Ia terus dibayangi pemikiran tentang apa yang akan terjadi jika ia tidak pernah bertemu seseorang yang benar-benar memahaminya.
Bagaimana jika Bachira terus bermain sepak bola sendirian, tanpa teman? Perasaan seperti itu membuatnya merasakan kehampaan yang begitu mendalam, seolah-olah akan mati karena rasa kesepian yang menyelimuti dirinya.
















