5. Raja Leuven Ngefans Brook

Meskipun terlahir sebagai bocah miskin, Brook tidak lantas berkecil hati apalagi tumbuh menjadi pribadi yang pemurung.
Sebaliknya, ia menjalani hidup layaknya tokoh dalam film India; melampiaskan segala emosinya, baik suka maupun duka, melalui nyanyian dan alunan musik.
Di sebuah tempat pembuangan sampah di Negara Esperia, Brook tampak asyik berjoget di atas tumpukan barang bekas.
Tangannya lincah memainkan alat musik menyerupai biola yang ia rakit sendiri dari botol bekas dan kawat. Sambil berjoget, ia melantunkan lirik yang sarat akan kepahitan hidupnya.
“Raja sialan … raja brengsek! Suatu hari nanti, aku pasti akan bermain musik sungguhan. Ayah, ibu, adikku … semuanya telah mati kelaparan. Kenapa hanya aku yang masih hidup? Padahal perutku sudah merasa kenyang hanya dengan makan katak berkutil.”
Beberapa saat kemudian, seorang pria bernama Leuven menghampirinya. Tentu saja, saat itu Brook sama sekali tidak tahu bahwa pria yang sering menemuinya tersebut adalah Pangeran dari Negara Esperia.
“Mengapa Om sering berkunjung kemari?” tanya Brook. “Apa Om adalah penggemarku?”
Leuven tersenyum tipis. “Ya, bisa dibilang begitu. Tapi tolong jangan panggil aku ‘Om’. Umurku baru 21 tahun.”
Mata Brook terbelalak kaget. Ia langsung menyimpulkan bahwa pria di depannya ini pasti mengalami beban hidup yang sangat berat hingga wajahnya terlihat boros. “Wah, kalau begitu aku akan memanggilmu ‘Abang’ saja!” putusnya mantap.















