7. Brook Di Culik

Pada suatu hari di Pelabuhan Cello, nasib nahas menimpa Brook. Tubuhnya disekap dan diikat kuat pada sebuah kursi dengan kondisi wajah yang sudah babak belur.

Beberapa prajurit Angkatan Laut tampak menginterogasinya dengan kasar. “Ngaku saja, kau ini kurirnya, kan?!” bentak salah satu dari mereka.

“Kami tahu sindikat itu menyuruhmu membawa semacam bubuk terlarang! Di mana kau menyembunyikannya?! Kami sudah membayar mahal demi informasi ini, tapi konyolnya, yang kau bawa malah bubuk kari!”

Sadar bahwa ajalnya mungkin sudah dekat, Brook mencoba menghibur dirinya sendiri. Alih-alih menjawab interogasi itu, ia justru berteriak dan melantunkan nyanyian andalannya.

“Baik sapi maupun katak, baik budak maupun raja … semua akan menjadi tulang di akhir hayat mereka.”

Mendengar itu, para Angkatan Laut semakin murka. Di sisi lain, mereka mulai menyadari bahwa Brook sepertinya memang bukan kurir sindikat yang mereka cari.

Namun, karena bocah itu telanjur melihat wajah dan mengetahui keberadaan mereka, para Angkatan Laut itu sepakat untuk tetap menghabisinya.

DUAAAR!

Tiba-tiba, dinding ruangan itu hancur lebur berkeping-keping. Dari balik kepulan asap debu, muncullah sosok Leuven yang berteriak memanggil nama Brook.

Para Angkatan Laut panik bukan main. “Pangeran Leuven?! Kenapa dia bisa ada di sini?!” seru mereka keheranan.

Mendengar sebutan itu, mata Brook terbelalak. Ia sangat terkejut saat menyadari bahwa ‘Abang’ yang selama ini menjadi sahabatnya adalah seorang Pangeran dari Negara Esperia.

Leuven langsung berlari dan memeluk erat Brook yang masih terikat di kursi. “Syukurlah kau masih hidup,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa jika sampai kehilanganmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here