9. Leuven & Candle Putuskan Rawat Brook

Di Kastil Esperia, Brook akhirnya siuman dari pingsannya. Ia mendapati dirinya tengah terbaring di atas kasur yang empuk dengan tubuh penuh perban. Di samping kasurnya, tampak Leuven tengah duduk setia menjaganya.
Melihat sahabatnya terbangun, Leuven tersenyum lega. Ia pun meminta maaf karena selama ini telah menyembunyikan identitas aslinya.
“Aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu,” ucap Leuven tulus. “Hanya saja, aku selalu merasa sangat bahagia hingga lupa diri setiap kali menghabiskan waktu bermain bersamamu.”
Leuven kemudian mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Dan jangan bilang pada siapa pun kalau kau suka mencuri bubuk kari di kapal Angkatan Laut, ya.”
Di ruangan yang sama, Candle ikut menimpali. Ia bercerita kepada Brook bahwa seluruh penghuni istana selalu kalang kabut setiap kali Pangeran Leuven menghilang dari kastil.
Sambil menunduk, Candle menyentuhkan jemarinya dengan lembut ke pipi Brook. “Tak kusangka, ternyata selama ini Pangeran pergi bersenang-senang bersama sahabatnya yang manis ini,” ucapnya diiringi senyuman menawan.
Mendapat perlakuan seperti itu, Brook mendadak mimisan. Jantungnya berdebar kencang karena tak sanggup menahan pesona kecantikan Candle dari jarak sedekat itu.
Leuven tertawa kecil, lalu menoleh kepada Candle. “Asal kau tahu saja, Brook ini sebenarnya adalah musisi favoritku,” ungkapnya bangga. “Bagaimana jika kita memberikannya sebuah kamar di barak prajurit? Lalu, aku akan membelikannya alat musik sungguhan dan sekalian menyekolahkannya di sekolah musik?”















