6. Persahabatan

Sebagai tanda persahabatan, Brook kemudian memasak belalang dan katak di dalam sebuah panci rongsok untuk menjamu Leuven.

Di luar dugaan, Leuven memuji masakan itu sangat enak. Mendengar pujian itu, Brook membocorkan rahasianya.

“Aku memakai bubuk kari sebagai bumbu rahasia. Aku mendapatkannya dengan cara mencuri dari kapal Angkatan Laut yang kadang lewat di dekat sini,” ungkapnya bangga.

Mendengar kepolosan itu, Leuven tiba-tiba termenung.

Pikirannya melayang pada kehidupannya di istana, di mana ia selalu disuguhi hidangan mewah berkualitas tinggi setiap hari dan kerap dikenalkan dengan wanita-wanita cantik putri konglomerat. Kontrasnya nasib mereka membuat dadanya sesak.

“Hei, kenapa kau menangis?” tegur Brook, membuyarkan lamunan Leuven.

Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar penuh haru, Leuven menatap sekelilingnya. “Tempat ini … juga bagian dari Esperia, ya?” gumamnya lirih, merasa terpukul saat membandingkan kehidupan mewahnya dengan penderitaan rakyatnya.

Melihat ‘Abang’-nya bersedih, Brook pun mengajaknya bernyanyi. Ia mengatakan bahwa Leuven tak perlu memberinya uang, karena ia tahu mereka berdua sama-sama orang miskin.

Tersentuh oleh kebaikan hati bocah itu, Leuven kemudian menawarkan sebungkus rokok dan sebotol minuman untuk mereka nikmati bersama.

Di tengah tumpukan sampah hari itu, persahabatan mereka terjalin erat. Brook terus bernyanyi sembari menggesek biola rakitannya, sementara Leuven duduk memancing, merokok, dan menikmati setiap alunan nyanyian Brook dengan damai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here