5. Lagu Untuk Putri Shuri

Brook kemudian memperkenalkan sebuah lagu kepada Putri Shuri yang berjudul “Biarkan Aku Sendiri”.
Menurutnya, lagu itu cocok didengarkan jika suatu hari nanti Putri Shuri ingin hidup mandiri. Lirik lagu tersebut diambil dari bahasa daerah yang berasal dari Negara Kamigata di wilayah barat.
Sambil Brook bernyanyi, berbagai momen kebersamaan mereka selama ini kembali teringat.
Mulai dari Brook yang berlari memayungi Putri Shuri saat hujan, momen mengukur tinggi badan putri yang terus bertambah, hingga kejahilan Putri Shuri yang menakut-nakuti Brook dengan boneka hantu.
Bahkan, kenangan saat Brook terbaring sakit pun kembali terlintas. Kala itu, Candle dengan sabar mengajari Putri Shuri memasak makanan untuk Brook.
Dan ketika masakan itu dihidangkan, Brook menyantapnya dengan sangat lahap—ia begitu menyukai masakan pertama sang putri.
6. Kabut Misterius’

Ketika Putri Shuri berusia 15 tahun, Negeri Musik itu dilanda bencana misterius. Kabut tebal yang menyelimuti negeri itu perlahan berubah menjadi asap beracun dan bertahan selama enam bulan penuh.
Asap tersebut merusak seluruh alat musik yang ada. Alunan melodi yang biasanya mengisi setiap sudut negeri pun lenyap, digantikan oleh suara batuk para penduduk yang terus bersahutan.
Puluhan ribu orang menderita penyakit paru-paru, sementara ratusan lainnya kehilangan nyawa.
Di tengah keputusasaan itu, Permaisuri Candle berusaha menenangkan rakyat. Ia meyakinkan mereka bahwa bencana tersebut pasti akan berlalu dan Esperia akan kembali seperti sediakala.
Namun nahas, tak lama setelah kabut beracun itu benar-benar lenyap, Permaisuri Candle justru meninggal dunia akibat terlalu banyak menghirup asap beracun selama bencana berlangsung.
Kepergiannya meninggalkan luka yang begitu dalam. Brook, Putri Shuri, dan Raja Leuven tak kuasa menahan kesedihan. Ketiganya menangis histeris di hadapan pusara Candle saat upacara pemakamannya berlangsung.

















