7. Impian Brook

Usai melatih kemampuan berpedang Putri Shuri, Brook berujar bahwa ada kalanya gerakan sang putri membuatnya takjub, seolah-olah gadis itu bisa melihat masa depan.

Putri Shuri tertawa kecil dan menjawab, “Aku ingin menjadi sekuat mendiang ibuku.”

Brook sangat percaya Putri Shuri kelak bisa sekuat Permaisuri Candle. Namun, ia ragu Raja Leuven akan mengizinkan sang putri bertarung di garis depan.

Brook juga menduga ada sesuatu yang sedang membebani pikiran Raja Leuven—sesuatu yang tak bisa diringankan olehnya maupun Putri Shuri. Meski begitu, Brook berjanji akan terus mengabdi setia kepada sang raja.

“Bukankah kau ingin menjadi bajak laut?” tanya Putri Shuri.

Brook menjawab bahwa prioritas utamanya saat ini adalah balas budi. Soal impian, hal itu bisa dikesampingkan.

Mendengar itu, Putri Shuri meminta agar Brook mengajaknya saat waktu itu tiba. Namun, Brook dengan tegas menyatakan bahwa ia takkan pernah mengizinkan sang putri ikut menjadi bajak laut.

8. Upeti Langit

Pihak istana melaporkan kepada Raja Leuven bahwa ekonomi Esperia telah runtuh, sehingga kerajaan tidak lagi mampu membayar upeti kepada Pemerintah Dunia.

Menanggapi situasi tersebut, Raja Leuven dengan tegas menyatakan perlawanan. Ia mengumumkan kepada para prajurit bahwa mereka akan maju berperang melawan Pemerintah Dunia.

Pernyataan tersebut sontak menggemparkan seisi kerajaan. Ketika ditanya mengenai alasannya, Raja Leuven menjelaskan bahwa ia menolak syarat pengganti upeti yang mengharuskannya menyerahkan 100 orang rakyat sebagai budak.

Baginya, menyerahkan rakyat untuk menjadi budak di Tanah Suci sama saja dengan mengirim mereka pada kematian.

Di tempat lain, para penduduk yang cemas menemui Brook, sang Komandan Pengawal Kerajaan Esperia. Mereka bertanya-tanya, “Apakah riwayat Negeri Esperia akan segera tamat?”

Kekhawatiran mereka sangat beralasan. Negara yang tidak berafiliasi dengan Pemerintah Dunia akan dianggap sebagai wilayah tanpa hukum, persis seperti kabar tentang sebuah negeri di West Blue yang belum lama ini lenyap tak bersisa.

“Apakah mereka akan merampas semua yang kita miliki?” tanya rakyat dengan putus asa.

Sebagai jawaban, Brook memetik senar gitarnya dan melantunkan sebuah lagu. Makna dari lagu tersebut seolah menyentil kesedihan mereka: bukankah saat ini mereka memang sudah tidak punya apa-apa lagi?

Mendengar syair lagu Brook yang jujur namun menghibur itu, rakyat pun tertawa lepas dan membenarkan perkataannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here