4. Pria Bertopeng Tengu

Tanjiro menggenggam pisau di tangannya, bersiap menyerang kepala oni yang tersangkut di pohon. Namun, saat ia mengendus aroma oni tersebut, Tanjiro menyadari bahwa aromanya berbeda dengan pelaku yang telah menewaskan keluarganya.

Meski begitu, ia merasa harus menghabisi kepala oni itu karena khawatir akan menyerang orang lain lagi. Nezuko memperhatikan Tanjiro yang tampak ragu-ragu untuk melanjutkan tindakannya.

Tiba-tiba, seorang pria bertopeng tengu menepuk bahu Tanjiro dan berkata bahwa pisau yang ia genggam tidak akan bisa membasmi oni.

Tanjiro terkejut mendapati pria itu berdiri di belakangnya, terlebih karena ia sama sekali tidak mendengar langkah kakinya.

Dengan rasa ingin tahu, Tanjiro menanyai pria bertopeng tengu tentang cara membasmi oni.

Namun, pria tersebut hanya menjawab dengan dingin, “Jangan bertanya kepada orang lain. Apa kau tidak bisa memikirkannya sendiri?” Tanjiro pun tersadar bahwa menusuk oni dengan pisau tidak akan mempan. Ia lalu mengambil sebuah batu dan berniat menghancurkan kepala oni dengan menghantamkannya berulang kali.

Namun, saat hendak melakukannya, Tanjiro mulai memikirkan rasa sakit yang akan dirasakan oleh oni tersebut. Ia ragu dan berharap ada cara untuk menghabisi oni dalam satu serangan, tanpa membuatnya menderita. Tanjiro pun merasa iba terhadap oni itu.

Pria bertopeng tengu yang berdiri di belakang Tanjiro mengamati tindakan dan keraguan Tanjiro dengan saksama. Dalam hatinya, ia menilai bahwa aura Tanjiro terlalu dipenuhi oleh kebaikan sehingga membuatnya tidak bisa bertindak tegas.

Bahkan saat menghadapi oni, aroma kebaikan itu masih sangat kuat dan membuat Tanjiro bersimpati pada makhluk yang seharusnya ia musnahkan.

Pria bertopeng tengu pun bergumam dalam hati, merasa bahwa Tanjiro yang direkomendasikan oleh Giyuu tidak memiliki potensi seperti yang diharapkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here