9. Penciuman Tajam

Tanjiro terus berlari menuruni gunung, meski keraguan mulai menghantui pikirannya. Ia mulai bertanya-tanya apakah dirinya mampu menyelesaikan tantangan ini, karena tubuhnya mulai lelah dan ia merasa mungkin akan pingsan.
Namun, tekad Tanjiro semakin kuat; ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan tantangan ini demi Nezuko. Ia mengandalkan penciumannya yang tajam untuk mendeteksi aroma jebakan yang tersebar di sepanjang jalan.
Dengan konsentrasi penuh, Tanjiro berhasil mencium keberadaan jebakan di sekitarnya. Ia berlari dengan gesit, menghindari tiga batang pohon yang berturut-turut hampir menghantam tubuhnya.
Saat melanjutkan perjalanan, ia mampu menyusupi dua jebakan tali yang menghadang jalannya dan bahkan berhasil melewati batang pohon besar yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tanjiro terus melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa terkena satu pun pisau yang ditembakkan bertubi-tubi dan nyaris mengenai kakinya.
Ketika rasa percaya diri Tanjiro mulai tumbuh, karena merasa mampu membedakan aroma jebakan buatan manusia, tiba-tiba ia terjebak.
Sebuah jebakan pohon bambu menghantam dagunya dengan keras, membuat tubuhnya terpental ke udara sebelum akhirnya terhempas ke tanah. Meskipun kesakitan, Tanjiro segera menggunakan tangannya untuk menangkis kumpulan batang bambu yang bergerak menyerangnya secara bertubi-tubi.
Dalam benaknya, Tanjiro menyadari bahwa ia tidak mungkin bisa menghindari semua jebakan ini dengan sempurna karena fisiknya masih kurang gesit.
Namun, meski tubuhnya mulai terseok-seok, ia tetap teguh pada tekadnya untuk menyelesaikan tantangan ini demi Nezuko. Tanjiro terus maju, membulatkan tekad untuk tidak menyerah.
















