2. Berlatih Keras

Urokodaki memberi tahu Tanjiro bahwa dirinya adalah pelatih pendekar pedang. Ia menjelaskan bahwa terdapat banyak pelatih di berbagai lokasi, masing-masing menggunakan metode latihan yang berbeda untuk melatih calon pendekar pedang.
Urokodaki juga menjelaskan kepada Tanjiro bahwa jika ia ingin bergabung menjadi pemburu iblis, ia harus mampu bertahan dalam ujian akhir yang akan diadakan di Gunung Fujikasane.
Namun, sebelum itu, Urokodaki akan terlebih dahulu mengukur kesiapan Tanjiro dan memutuskan apakah ia layak untuk mengikuti ujian tersebut.
Setiap hari, Tanjiro berlatih keras dengan berlari menuruni gunung dalam kecepatan tinggi, melompati tali jebakan yang siap menjegal kakinya. Latihan rutin membuat Tanjiro semakin mahir menghindari berbagai jebakan.
Tanjiro dengan cekatan membungkukkan tubuhnya untuk menghindari batang kayu yang tiba-tiba bergerak dari samping, serta dengan cepat melompat melewati jebakan tali sambil terus berlari.
Hasilnya, fisiknya semakin kuat dan indra penciumannya menjadi semakin tajam dalam mengenali aroma.
Tujuan Tanjiro berlatih keras adalah agar ia mampu bertahan dan tidak tewas saat menjalani ujian akhir. Setiap hari, jebakan yang ia hadapi menjadi semakin berbahaya, seolah-olah dirancang untuk mengancam nyawanya.
Sebagai contoh, empat bilah pisau yang tiba-tiba meluncur dari samping saat Tanjiro berlari kencang berhasil ia hindari dengan cekatan.
Bahkan, ketika ia hampir terjatuh ke dalam lubang yang dipenuhi pisau, Tanjiro dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak terperosok. Latihan ini membuat tekad dan kemampuannya semakin terasah.
















