6. Membelah Batu

Tanjiro terus berlari menuruni gunung sambil melatih dirinya di tempat dengan udara yang tipis. Ia memanjat tebing-tebing curam untuk melatih keseimbangannya, meskipun berkali-kali nyaris terjatuh ke jurang.

Setelah itu, Tanjiro melanjutkan latihannya dengan menggunakan katana untuk membelah jebakan yang jatuh dari atas.

Ketika kumpulan pisau berjatuhan menghujaninya, Tanjiro dengan keterampilan pedangnya berhasil menebas pisau-pisau tersebut, memastikan semuanya tidak mengenai dirinya.

Setelah satu tahun berlatih di Gunung Sagiri, Urokodaki memberi tahu Tanjiro bahwa semua yang perlu diajarkan telah selesai.

Urokodaki menjelaskan bahwa sisanya tergantung pada Tanjiro sendiri, apakah ia mampu menerapkan ilmu yang telah dipelajari untuk naik ke level berikutnya.

Di tengah cuaca bersalju, Urokodaki membawa Tanjiro ke sebuah batu besar. Ia menjanjikan bahwa Tanjiro diizinkan mengikuti ujian akhir jika ia berhasil membelah batu besar tersebut.

Dalam hati, Tanjiro merasa mustahil untuk membelah batu besar itu menggunakan katana, karena ia meyakini bahwa katananya akan rusak.

Urukodaki kemudian melangkah pergi, meninggalkan Tanjiro tanpa berkata apa-apa lagi. Sejak saat itu, Urukodaki tidak lagi memberikan pelatihan atau arahan kepada Tanjiro.

Dengan tekad yang tersisa, Tanjiro mencoba menebaskan katananya ke arah batu besar. Namun, setiap kali ia melakukannya, sekujur tubuhnya merasakan ngilu yang luar biasa, seakan menolak tantangan yang tampak mustahil tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here