7. Sabito

Tanjiro melatih ilmu berpedang yang diajarkan oleh Urokodaki setiap hari dengan menebas pohon bambu. Ia mempraktikkan teknik pernapasan, kelincahan, serta dasar-dasar yang telah dipelajarinya, semua yang selama ini ia tuliskan dalam jurnal pribadinya.
Setengah tahun berlalu, Tanjiro masih belum berhasil membelah batu besar tersebut dengan katananya. Tangan Tanjiro sudah lecet akibat latihan tanpa henti.
Perasaan frustrasi mulai melanda, membuatnya berpikir bahwa ia tidak akan mampu membelah batu itu.
Tanjiro merasa khawatir tidak bisa menyelamatkan Nezuko dan gagal menjadi seorang pemburu iblis. Dalam keputusasaan, Tanjiro membenturkan kepalanya berulang kali ke batu besar sambil menyemangati dirinya sendiri, berkata, “Berjuanglah, diriku.”
Tanjiro terkejut ketika mendengar seseorang menyebutnya berisik. Ia mendongak dan melihat Sabito, seorang pria bertopeng rubah, sedang duduk di atas batu besar. Anehnya, Tanjiro tidak dapat mencium aroma kehadiran pria tersebut.
Sabito dengan tegas menyebut Tanjiro menggelikan, karena menurutnya seorang pria tidak seharusnya merengek. Sesulit apa pun cobaan yang dihadapi, seorang pria harus mampu mengatasinya.
Sabito kemudian melompat turun dari batu besar dan menyerang Tanjiro dengan katana kayu. Tanjiro buru-buru menggunakan gagang pedangnya untuk menahan tebasan Sabito. Namun, Sabito melancarkan serangan berikutnya dengan menendang wajah Tanjiro, membuatnya terhuyung mundur.
Dengan nada mengejek, Sabito menilai Tanjiro lambat, lemah, tidak berpengalaman, dan menyimpulkan bahwa Tanjiro belum pantas disebut sebagai seorang pria.
















