4. Latihan di Air

Hari berikutnya, Urokodaki mulai mengajari Tanjiro sepuluh kuda-kuda dari teknik pernapasan air. Ia menginstruksikan Tanjiro untuk menarik napas dalam-dalam hingga udara memenuhi setiap sel darah dalam tubuhnya.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan kekuatan fisik, mempercepat proses penyembuhan, dan menstabilkan kondisi jiwa. Urokodaki juga mengingatkan Tanjiro untuk merilekskan tubuh bagian atas sambil menguatkan tubuh bagian bawah.

Tanjiro berdiri tegak sambil mencoba menarik napas dalam, seperti yang diperintahkan. Namun, Urokodaki tiba-tiba memukul perut Tanjiro, membuatnya kesakitan.

Urokodaki tampak marah karena kuda-kuda Tanjiro salah dan otot-otot perutnya tidak cukup kuat. Tanpa ragu, Urokodaki terus memukul perut Tanjiro bertubi-tubi, sementara Tanjiro berteriak kesakitan.

Kemudian, Urokodaki membawa Tanjiro ke tebing di depan air terjun yang mengalir deras. Ia menyuruh Tanjiro untuk “menyatu dengan air.” Tanjiro merasa takut saat berdiri di tepi tebing sambil memandang air deras di bawahnya.

Namun, sebelum Tanjiro sempat menolak, Urokodaki menendangnya, membuat Tanjiro terjatuh dari tebing dan tercebur ke air.

Setelah berada di bawah air terjun, Tanjiro mencoba berdiri dengan tegak sambil mengangkat kedua tangannya dalam posisi seperti seorang petapa yang menahan derasnya aliran air yang menghantam punggungnya.

Namun, tubuh Tanjiro yang belum cukup kuat akhirnya tertekuk, hingga ia jatuh dan roboh karena tekanan air yang luar biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here