8. Sabito vs Tanjiro

Sabito menegur Tanjiro, bertanya sampai kapan dia akan terus berlutut. Mendengar itu, Tanjiro bangkit berdiri sambil menggenggam katananya dan bersiap bertarung.
Namun, Tanjiro menolak menyerang karena Sabito hanya menggunakan katana kayu. Sabito tertawa dan berterima kasih karena Tanjiro telah mencemaskannya.
Dengan gerakan cepat, Sabito menyerang, dan Tanjiro menggunakan gagang pedangnya untuk menahan serangan katana Sabito.
Sabito kemudian meminta Tanjiro menyimpan kebaikan hatinya, karena Sabito jauh lebih kuat darinya dan telah berhasil membelah batu besar tersebut.
Sabito melompat ke udara, bergerak ke atas pohon, lalu menyerang Tanjiro dari belakang. Namun, Tanjiro mampu menangkis serangan itu.
Sabito bergerak secepat kilat, mengitari tubuh Tanjiro dengan serangan yang sulit diikuti oleh mata biasa. Akhirnya, Sabito berhasil menjatuhkan Tanjiro hingga tubuhnya terhempas tiarap di tanah.
Sabito memberi tahu Tanjiro bahwa dia belum menguasai teknik pernapasan konsentrasi penuh yang diajarkan oleh Urokodaki.
Sabito menilai bahwa Tanjiro hanya sekadar mengingat cara melakukannya, tetapi tubuhnya belum sepenuhnya memahami teknik tersebut. Dengan nada kritis, Sabito mempertanyakan apa saja yang telah dilakukan Tanjiro selama satu setengah tahun terakhir.
Tanjiro bangkit kembali dan menangkis serangan katana Sabito yang terus dilancarkan bertubi-tubi. Meski mampu bertahan, Tanjiro tampak kewalahan. Keduanya saling beradu katana sambil berbicara.
Sabito menyarankan Tanjiro untuk menanamkan teknik yang diajarkan oleh Urokodaki hingga ke dalam sumsum tulangnya, sehingga tubuhnya tidak akan pernah lupa bagaimana cara melakukannya.
Tanjiro pun mengaku bahwa ia telah berusaha melakukannya setiap hari dengan sepenuh tenaga. Namun, ia merasa kecewa karena hingga kini belum ada perkembangan, terutama saat mencoba membelah batu besar yang menjadi tantangan utamanya.
Sabito menegaskan bahwa sebagai seorang lelaki, Tanjiro hanya memiliki satu pilihan: melangkah maju. Serangan Sabito terus menghantam tubuh Tanjiro beberapa kali, tetapi Tanjiro tetap berdiri dan mencoba bertahan.
Kemudian, keduanya saling berhadapan, siap untuk mengayunkan katana masing-masing. Namun, Sabito memutar tubuhnya dengan lincah untuk menghindari tebasan Tanjiro, lalu menyerang dengan katana kayunya, yang tepat mengenai dagu Tanjiro.
Serangan itu membuat tubuh Tanjiro melayang sedikit ke udara sebelum jatuh dan terbaring pingsan di tanah.
Sambil berdiri di atas Tanjiro yang pingsan, Sabito berkata bahwa ia akan menyerahkan sisanya kepada Makomo. Dari kejauhan, terdengar suara Makomo menjawab dengan singkat, “Ya.”
















