9. Makomo

Pada malam hari, Tanjiro terbangun dari pingsannya dan mendapati Makomo duduk di sampingnya.
Dengan rasa penasaran, Tanjiro bertanya apakah Makomo melihat teknik pedang yang digunakan Sabito. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap teknik tersebut, yang menurutnya sangat luar biasa karena tidak ada gerakan yang sia-sia.
Tanjiro bertanya-tanya apakah ia juga mampu menguasai teknik seperti itu. Makomo dengan senyuman lembut meyakinkan Tanjiro bahwa ia pasti bisa, karena selama ini ia selalu mengamati perkembangan Tanjiro. Tanjiro hanya tertegun melihat senyuman indah dari bocah perempuan tersebut.
Makomo kemudian menjelaskan kekurangan dalam teknik berpedang Tanjiro. Ia memperbaiki gerakan yang tidak diperlukan serta kebiasaan buruk yang sering dilakukan Tanjiro.
Tanjiro, yang penasaran, bertanya mengapa Makomo membantunya dan dari mana Makomo serta Sabito berasal. Namun, Makomo enggan memberi jawaban.
Tanjiro sering mendengar Makomo berkata bahwa ia dan Sabito sangat menyayangi Urokodaki. Namun, Makomo menegaskan bahwa ia dan Sabito bukan saudara kandung.
Ia menjelaskan bahwa mereka berdua adalah anak yatim yang pernah menjadi murid Urokodaki. Bahkan, Makomo menyebutkan bahwa masih ada banyak anak lain yang juga memperhatikan Tanjiro dari kejauhan, meskipun Tanjiro merasa pernyataan itu cukup aneh.
Makomo kemudian menjelaskan tentang “pernapasan konsentrasi penuh”. Ia mengatakan bahwa teknik ini dapat mempercepat aliran darah, meningkatkan detak jantung, serta menaikkan suhu tubuh pengguna. Dengan teknik ini, meskipun seorang manusia, pengguna dapat menjadi sekuat oni.
Hal ini disebabkan oleh paru-paru yang melebar, memungkinkan lebih banyak udara masuk ke dalam darah. Ketika darah mengalir lebih cepat, tulang dan otot pengguna akan bereaksi, sehingga kekuatan mereka meningkat pesat.
Tanjiro, dengan antusias, bertanya bagaimana cara mempelajari teknik tersebut. Makomo menjawab dengan tegas bahwa Tanjiro harus berlatih keras hingga hampir setengah mati untuk bisa menguasainya.
















